Rabu 12 Nov 2014 11:34 WIB

Mahasiswa UII Kembangkan Alat Olah Limbah Pewarna Keramik

Rep: Heri Purwata/ Red: Indah Wulandari
Perajin Keramik Lokal disulitkan dengan keramik impor ilegal.
Foto: Antara
Perajin Keramik Lokal disulitkan dengan keramik impor ilegal.

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA--Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta berhasil menemukan alat pengolah limbah pewarna keramik. 

Selama ini, limbah zat pewarna dari industri keramik dibuang begitu saja di sungai dekat industri sehingga dikhawatirkan akan mencemari lingkungan. 

“Zat pewarna glasir yang diencerkan mengandung unsur logam berat, seperti timbal, tembaga, dan besi. Sehingga limbah tersebut tidak hanya membahayakan para pekerjanya, namun juga lingkungan pemukiman sekitar,” kata mahasiswa Ilmu Kimia FMIPA UII, Imam Sahroni, Rabu (12/11). 

Dijelaskan Imam, logam berat yang terkandung di dalamnya pun berpotensi terserap tanaman tersebut dapat berpindah ke tubuh manusia. Karena itu jika limbah tersebut tidak ditangani dengan baik akan merusak lingkungan. 

Atas keprihatinan tersebut, Imam bersama dengan tiga orang anggota timnya, yaitu Zulfa Zuhrufa, Riva Elvira, dan Meili Mustathi'ah merancang alat pengolah limbah industri keramik. 

Alat ini cukup sederhana yang terdiri dari pompa air, rangkaian pipa, dan bahan penetralisir limbah yang terbuat dari lempung kaolin. 

Cara kerjanya, jelas Imam, pompa air berfungsi untuk menyedot limbah cair yang terdapat di bak penampungan kemudian mendorongnya melewati rangkaian pipa. Air limbah kemudian dialirkan menuju penampungan atau bagian penetralisir yang di dalamnya terdapat bahan lempung kaolin. 

“Lempung ini berfungsi menyerap kandungan logam berat dan bau yang terdapat dalam limbah cair dengan memanfaatkan reaksi absorbsi fisik. Selanjutnya air limbah yang telah melewati ruang penyaringan ini dapat langsung dibuang ke saluran air atau digunakan kembali,” kata Imam. 

Ditambahkan  Zulfa Zuhrufa, rekan satu timnya, berdasarkan uji laboratorium dengan memakai instrumen AAS (Atomic Absorption Spectroscopy) diperoleh hasil, kandungan logam Cu hampir turun 100  persen (dari 148 mg/L menjadi 1,89 mg/L). 

“Sehingga air dapat digunakan kembali untuk proses produksi,” kata Zulfa.

Mahasiswa UII ini pun telah menyumbangkan satu alat temuannya untuk  satu kelompok pengrajin keramik di wilayah Bantul.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement