Kamis 30 May 2013 22:08 WIB

Eks RSBI Akan Berubah Bentuk Menjadi Badan Layanan Umum Daerah?

Aktivitas murid Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI)
Foto: Republika/Imam Budi Utomo
Aktivitas murid Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI)

REPUBLIKA.CO.ID,BEKASI--Penyelenggara eks Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) di Kota Bekasi, Jawa Barat, menyambut baik perubahan bentuk pengelolaan menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

"Wacana itu diusulkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai alternatif mempertahankan mutu sekolah eks-RSBI yang sudah besar investasinya," ujar Kepala SMAN 1 Kota Bekasi Mawar, di Bekasi, Kamis.

Menurut dia pihaknya akan mendukung penuh rencana itu selama selaras dengan semangat memajukan pendidikan.

Pada dasarnya, kata dia, pengelola eks RSBI mendukung apa pun nama yang dilabelkan pada metode pendidikan eksklusif tersebut selama untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

"Sayang, kalau potensi yang sudah dibentuk dan dibina selama ini menurun. Jangan pula begitu saja disamakan dengan reguler. Standar mutu yang susah payah kami capai sudah semestinya dipertahankan," katanya.

Salah satu upaya mempertahankan kualitas lebih baik daripada sekolah reguler yang ada di Kota Bekasi ialah dengan membedakan persyaratan perekrutan terhadap siswa baru pada tahun ajaran 2013/2014.

Bilamana pendaftar ke SMA reguler hanya dipertimbangkan nilai Ujian Nasional (UN) saja, maka SMA eks RSBI mempertimbangkan pula nilai rapor selama tiga tahun di SMP.

"Proporsi pembobotannya 20 persen untuk nilai rapor dan 80 persen untuk nilai UN. Rata-rata nilai raport selama di SMP juga tidak boleh lebih kecil dari 7,5," katanya.

Seleksi rapor ini dilaksanakan terlebih dulu yakni pada 10-14 Juni. Begitu nilai rapor telah selesai divalidasi, seleksi peserta didik baru di sekolah eks RSBI dilanjutkan secara 'online' yang waktunya serentak dengan sekolah reguler pada 1-6 Juli.

"Perbedaan seleksi tahun lalu dengan sekarang ialah tidak dilakukannya tes kepada pendaftar. Sistem seleksi yang membedakan hanya dari segi validasi nilai rapor," katanya.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
وَمَا تَفَرَّقُوْٓا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْۗ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَّبِّكَ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى لَّقُضِيَ بَيْنَهُمْۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْرِثُوا الْكِتٰبَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ لَفِيْ شَكٍّ مِّنْهُ مُرِيْبٍ
Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah belah kecuali setelah datang kepada mereka ilmu (kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. Jika tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dahulunya dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pastilah hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang mewarisi Kitab (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Muhammad), benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentang Kitab (Al-Qur'an) itu.

(QS. Asy-Syura ayat 14)

Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement