Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Survei Lingkungan Belajar Bukan untuk Profiling Individu

Rabu 28 Jul 2021 03:48 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Indira Rezkisari

Guru mengajar. Survei lingkungan belajar yang dilakukan Kemendikbud Ristek mengandung pro dan kontra karena dinilai bersifat politis.

Guru mengajar. Survei lingkungan belajar yang dilakukan Kemendikbud Ristek mengandung pro dan kontra karena dinilai bersifat politis.

Foto: ANTARA Aswaddy Hamid
Pertanyaan di survei lingkungan belajar dinilai bersifat politis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Balitbangbuk) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Anindito Aditomo, menegaskan survei lingkungan belajar tidak untuk melihat individu guru atau kepala sekolah. Ia mengatakan, hasil survei nantinya akan diberikan kepada sekolah untuk bahan evaluasi.

Belakangan ini, soal-soal yang beredar mengenai survei lingkungan belajar mengundang pro kontra. Sebab, pertanyaan di dalam survei dinilai mengandung unsur politis, seperti setuju atau tidak terkait presiden yang harus berasal dari agama mayoritas. Pertanyaan lain juga mempertanyakan pendapat responden mengenai presiden yang lebih baik laki-laki daripada perempuan.

Menurut Anindito, pertanyaan tersebut bagian dari iklim kebhinekaan. "Jadi sama sekali tidak ada maksud untuk profiling individu dari AN ini karena ini potret kolektif. Yang ingin kita lakukan adalah sekolah bercermin, saya sudah aman belum lingkungannya," kata Anindito, dalam telekonferensi, Selasa (27/7).

Hasil dari survei yang diberikan kepada sekolah nantinya diharapkan bisa digunakan sekolah untuk bercermin, apakah sekolah sudah cukup aman dan berkebhinekaan atau tidak. Jika nilai sekolah nantinya rendah, Anindito berharap sekolah bisa berinisiatif untuk mengevaluasi pembelajaran selama ini.

"Sehingga mereka terdorong, kalau sekolahnya relatif rendah, mereka terdorong untuk mencari tahu kenapa rendah, apakah ada bullying, apakah ada kekerasan, dan melakukan intervensi untuk memperbaiki hal itu," kata dia lagi.

Selain itu, ia menjelaskan survei yang dilakukan pada Asesmen Nasional (AN) sebelumnya sudah melalui berbagai tahapan uji coba. Survei yang dilakukan di sekolah penggerak selama ini adalah tahapan akhir dari uji coba tersebut.

"Nanti akan ada kajian dari tim teknis. Masukan-masukan yang terkumpul juga data yang terkumpul dari sekolah penggerak akan dikaji oleh tim pengembang instrumennya, dan itu akan menjadi dasar dalam versi berikutnya. Artinya untuk AN," kata Anindito menegaskan.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA