REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Duta Besar Republik Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya mengakui ketangguhan Selandia Baru dalam menghadapi kasus yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah negara tersebut. Seorang teroris memberondong tembakan kepada umat Muslim yang usai melakukan shalat Jumat hingga menewaskan 51 orang.
"Terus terang kita belajar banyak dari negara sekecil Selandia Baru dalam menghadapi krisis yang begitu besar. Jadi tak ada latihan untuk menangani ini, sebab baru pertama terjadi, tapi nyatanya mereka bisa melaluinya dengan baik," ujar Tantowi kepada wartawan di Ruang Palapa Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa (7/5).
Tantowi menceritakan keadaan Selandia Baru kurang dari satu pekan usai serangan teror yang pelakunya berasal dari Australia. Sepekan usai serangan, segala sesuatunya sudah kembali normal sehingga masyarakat sudah bekerja normal dan rasa takut sudah hilang.
"Kepolisian masih hadir di tempat-tempat tertentu khususnya masjid dalam rangka memberikan rasa aman bagi umat Islam ketika melakukan shalat bersama semsial shalat Jumat," kata dia.
Terlebih, saat Ramadhan yang dipastikan kunjungan dari umat Muslim ke masjid tinggi. "Tapi cara menjaga mereka tidak over acting, tidak begitu visible," katanya.
Selain itu, kini bandara di Selandia Baru juga kembali berjalan dengan normal. Sebelumnya, bandara sempat menerapkan inspeksi barang dan tubuh setiap penumpang yang sangat ketat.
Tantowi juga mengatakan bagaimana Perdana Menteri Jacinda Ardern dalam menghadapi masalah ini. Menurutnya, ada dua hal yang ditanamkan PM kepada rakyatnya.
"Rasa takut dan kepopuleran," katanya.
PM Ardern memastikan masyarakat Selandia Baru tidak takut. Mereka bahkan menghadapi kasus teror ini secara bersama. Tantowi mengatakan, seluruh masyarakat umat beragama di kota-kota lain bersatu padu membela umat Islam sehingga kerukunan umat beragama menjadi momentum bagi rakyat semakin kuat.
Selain itu, PM Ardern juga menegaskan agar teroris tidak mendapatkan panggungnya. "Jangan harap pelaku teroris populer, kita saja kini sudah lupa nama teroris itu siapa," ujar Tantowi.
PM Ardern tak pernah menyebut nama pelaku dan hal tersebut diikuti oleh media.