REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD -- Perdana Menteri (PM) Irak Adel Abdul Mahdi mengomentari hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran yang baru-baru ini memanas. PM Adel mengingatkan baik AS maupun Iran keduanya agar tidak berperang.
Irak pun melalui PM akan melakukan kontak dengan keduanya. Menurutnya, konflik antara Washington dan Teheran kembali memasuki fase yang rumit.
"Konflik keduanya di mana Teheran merupakan sekutu utama Baghdad adalah "file rumit" yang tengah Irak cari solusi untuk mereka," kata Abdul Mahdi.
Ia juga mengatakan, sudah mendapat indikasi dari pembicaraan dengan AS, dan Iran. Menurutnya segalanya akan berakhir dengan baik, meskipun ada retorika-retorika dari kedua belah pihak saat ini.
Berbicara kepada wartawan pada konferensi pers, Abdul Mahdi mengatakan, Baghdad berkomunikasi secara teratur dengan Teheran dan Washington, dua sekutu utamanya. "Kami berusaha mengurangi ketegangan," katanya.
Sabotase empat kapal tanker minyak di Teluk Persia telah meningkatkan kekhawatiran atas ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat, Senin (13/5).
Sebab, serangan sabotase tersebut terjadi ketika Amerika Serikat (AS) memperketat sanksi terhadap Iran. Apalagi, AS telah mengerahkan kapal induk dan kapal pengebom ke wilayah perairan tersebut.
Para pejabat AS mencurigai Iran terlibat dalam sabotase tersebut, namun hingga saat ini belum ada bukti-bukti definitif yang menguatkan.