REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar kembali menuai kontroversi. Persiapan Piala Dunia tersebut diwarnai oleh sejumlah kematian pekerja yang cukup signifikan. Sejak Februari 2018 hingga saat ini, sebanyak sepuluh pekerja meninggal dunia di situs bangunan.
Sembilan dari 10 pekerja tersebut menderita sakit di kamar mereka, dan enam diantaranya meninggal di bawah usia 36 tahun. Para pekerja yang meninggal itu lima orang berasal dari Bangladesh, tiga orang dari India dan dua dari Nepal.
Oleh karena itu, kelompok hak asasi manusia dan pemerintah yang menyediakan pekerja untuk pembangunan tersebut minta Qatar untuk memperbaiki kondisi kehidupan, standar keamanan, mengurangi tekanan pekerja dan meningkatkan upah. Komite Tertinggi dalam sebuah laporan tahunan menyadari, kematian dalam jumlah yang banyak telah dijadikan sebagai program untuk deteksi awal terkait dengan pelayanan terkait risiko kesehatan dan masalah lainnya.
''Tidak ada keraguan bahwa setiap kematian adalah tragedi. Kami bekerja sangat keras dengan (organisasi non-pemerintah), institusi medis, serikat pekerja dan universitas untuk melakukan segalanya demi menyelesaikan masalah ini,'' ucap Sekretaris Jenderal Penyelenggara Piala Dunia 2022 Qatar, Hassan Al Thawadi seperti dikutip dari Sky Sports, Selasa (3/5).
Al Thawadi mengungkapkan, pihaknya terus melakukan apa yang mereka bisa untuk mencari solusi dari permasalahan kematian pekerja ini. Salah satunya adalah meningkatkan upah minimum dari 750 riyal Qatar menjadi 900 riyal Qatar. Namun Al Thawadi belum tahu kapan rencana tersebut akan terealisasi.
''Kami memastikan bahwa apapun solusi yang kami dapat, tiak hanya untuk masalah yang jadi pusat perhatian, tapi solusi untuk setelah 2022,'' kata Al Thawadi.