Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

14 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Gerakan Buruh dan Rakyat Desak Pembebasan Dandhy Laksono

Kamis 26 Sep 2019 21:47 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Indira Rezkisari

Police line

Police line

Foto: Wikipedia
Penangkapan Dandhy dinilai mencederai demokrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gerakan Buruh bersama Rakyat (GEBRAK) mengecam penangkapan terhadap aktivis HAM dan jurnalis yang juga pembuat film Sexy Killers, Dandhy Laksono. Penangkapan terhadap jurnalis dinilai mencederai demokrasi dan kebebasan berpendapat.

Penangkapan Dandhy juga akan menciptakan preseden buruk bagi Indonesia yang mendapatkan buah demokrasi dari perjuangan reformasi. Untuk itu, GEBRAK mendesak Polda Metro Jaya membebaskan Dandhy Dwi Laksono.

Baca Juga

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Dandhy ditangkap pada pukul 22.45 WIB di kediamannya di Bekasi. Tim dari Polda Metro Jaya yang terdiri dari 4 orang membawa Dandhy ke Polda Metro Jaya pada pukul 23.05.

Penangkapan berdasarkan pada laporan Asep Sanusi pada 24 September 2019. Dandhy dikenakan pasal 14 dan 15 UU 1 tahun 1946 tentang hukum pidana dan/atau pasal 28 ayat (2) jo pasal 45 A ayat (2) UU ITE tentang tindak pidana penyebaran informasi yang menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

GEBRAK melihat penangkapan ini sebagai upaya pembungkaman terhadap orang-orang yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Dengan kata lain, GEBRAK menganggap pasal-pasal karet dalam UU ITE ini menyasar orang seperti Dandhy yang memblejeti kebijakan pemerintah.

Seperti diketahui, Dandhy belakangan mengkritik kebijakan pemerintah terhadap Papua melalui media sosial dan debat terbuka dengan politikus PDI-P Budiman Sudjatmiko. Ia juga menggunakan pengaruh di media sosial dengan pengikut 71 ribu di platform Twitter untuk mengemukakan gagasannya.

   

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile