REPUBLIKA.CO.ID, Sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Thalhah al-Anshari adalah sosok lelaki ideal. Wajahnya tampan, badannya atletis, kaya raya pula. Ia pun menduduki status sosial yang tinggi di masyarakatnya. Di samping itu, lelaki yang memiliki nama asli Zaid bin Sahal An Najjary ini dikenal sebagai penunggang kuda hebat dari Bani Najjar, serta pemanah jitu dari Yatsrib yang diperhitungkan banyak orang.
Setelah masuk Islam, praktis semua miliknya dipersembahkan untuk dakwah: waktu, harta, tenaga, kedudukan, pemikiran, hingga nyawa. Pengorbanan ini terus dia lakukan hingga dia berusia lanjut. Alhamdulillah, suami Ummu Sulaim ini dikaruniai usia panjang.
Pada zaman khalifah Usman bin Affan, kaum Muslimin harus berperang di lautan. Sebagai seorang mujahid kawakan, Abu Thalhah tentunya tidak mau ketinggalan. Bersama pasukan kaum Muslimin lainnya, ia bersiap-siap turut dalam peperangan tersebut.
"Wahai Bapak, Bapak sudah tua. Bapak sudah turut berjuang bersama Rasulullah SAW, bersama Abu Bakar, dan Umar bin Khathab. Kini waktunya Bapak beristirahat. Biarlah kami yang menggantikan Bapak berperang," ungkap anak-anaknya.
Apa jawaban Abu Thalhah? Dia membaca sebuah ayat Alquran, ''Berangkatlah kamu dalam keadaan senang dan susah, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu menyadari.'' (QS at-Taubah [9]: 41).
"Firman ini memerintahkan kita semua, baik tua atau pun muda, untuk berperang. Allah tidak membatasi usia seseorang untuk menegakkan agama Allah," lanjut Abu Thalhah. Dia menolak permintaan anak-anaknya untuk tinggal di rumah.
Sejarah mencatat, mujahid dakwah ini meninggal di kapal satu pekan sebelum mencapai daratan. Selama enam hari di kapal jenazah Abu Thalhah tidak berubah sedikit pun. Ia telihat seperti sedang tidur pulas.
Kisah ini memperlihatkan sosok sahabat yang memiliki komitmen luar biasa terhadap Alquran. Lihatlah, demi mengamalkan satu ayat saja (QS At Taubah [9]: 41), dia rela mengorbankan hartanya yang paling berharga yaitu nyawa.
Padahal, dilihat dari segi fisik, Abu Thalhah masuk kelompok yang mendapatkan keringanan untuk tidak berperang. Namun, dia tidak melakukannya.
Abu Thalhah tidaklah sendirian. Semua sabahat Rasul memiliki sikap dan perhormatan yang luar biasa terhadap Alquran. Tak heran bila zaman mereka hidup menjadi zaman terbaik dalam sejarah manusia.
Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? Demikian janji Allah dalam QS al-Anbiyaa' [21] ayat 10.
Tak heran jika Syekh Muhammad al-Ghazali menyatakan generasi pertama terangkat kemuliaannya karena menempatkan Alquran di atas segala-galanya. Sedangkan generasi sekarang jatuh kemuliaannya karena menempatkan Alquran di bawah nafsu dan kehendak dirinya.