Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

 

7 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Komitmen Pemerintah Dorong Atraktifnya Saham BUMN

Senin 24 Feb 2020 07:46 WIB

Rep: M Nursyamsi/ Red: Friska Yolanda

Pengunjung beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (4/2). Saham BUMN yang kian atraktif tak lepas dari pembenahan yang selama ini dilakukan.

Pengunjung beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (4/2). Saham BUMN yang kian atraktif tak lepas dari pembenahan yang selama ini dilakukan.

Foto: Antara/Reno Esnir
Pembenahan oleh menteri BUMN mendorong membaiknya saham BUMN.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Ekonomi Irvan Rahardjo menilai kian atraktifnya saham-saham BUMN tak lepas dari komitmen pemerintah. Irvan menilai banyak proyek-proyek pemerintah yang tentu dikuasai BUMN.

 

"Mereka dapat dukungan penuh dari pemerintah dan proyek pemerintah selalu menarik investor," ujar Irvan saat dihubungi Republika.co.id di Jakarta, Senin (24/2).

Irvan juga berpendapat langkah Menteri BUMN Erick Thohir dalam membenahi BUMN mendorong membaiknya saham BUMN. Meski begitu, kata Irvan, Kementerian BUMN tak bisa bekerja sendirian dan memerlukan dukungan Kemenkeu, BPK, DPR, hingga kementerian teknis lainnya. Irvan menilai rencana holdingisasi dari Erick perlu terus dikejar dalam meningkatan kinerja perusahaan pelat merah.

"Penyakit BUMN itu terlalu banyak stakeholder kepentingan, di situ ada DPR, BPK, Kemenkeu, hingga kementerian teknis," ucap Irvan.

Irvan juga menilai BUMN harus terus menjaga tata kelola perusahaan yang baik, transparansi, dan integritas, demi menjaga kepercayaan investor. Irvan menilai BUMN tak semata sebagai agen pembangunan, melainkan juga menjaga aspek keuntungan dalam dividen bagi negara.

"Kalau menarik dividen lebih besar artinya kan BUMN harus lebih menguntungkan, tapi di saat yang sama masih banyak BUMN yang merugi dan belum optimal dalam meningkatkan kinerjanya," kata Irvan.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile