Thursday, 3 Rabiul Awwal 1444 / 29 September 2022

Thursday, 3 Rabiul Awwal 1444 / 29 September 2022

 

3 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Patuh Lockdown, PM Belanda tak Kunjungi Ibu yang Sakit Keras

Rabu 27 May 2020 00:06 WIB

Red: Yeyen Rostiyani

Patuhi lockdown membuat PM Belanda Mark Rutte tak kunjungi ibu yang sakit keras.

Patuhi lockdown membuat PM Belanda Mark Rutte tak kunjungi ibu yang sakit keras.

Foto: EPA
PM Belanda tak mengunjungi ibunya selama delapan pekan.

REPUBLIKA.CO.ID, AMSTERDAM -- Karena mematuhi lockdown, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte tak mengunjungi ibunya selama delapan pekan, meski sang ibu sakit keras. Ia baru menemui sang ibu beberapa jam menjelang kepergiannya bulan ini.

 

"Perdana Menteri mematuhi semua larangan terkait virus corona dan tidak mengunjungi ibunya selama berminggu-minggu," demikian pernyataan yang disampaikan kantor perdana menteri pada Selasa (26/5). "Namun, aturan pelarangan masih memungkinkan sedikit kelonggaran untuk mengucapkan selamat berpisah kepada anggota keluarga yang sakit keras pada saat-saat terakhirnya dan PM berada di sisi ibunya pada malam terakhir (sebelum meninggal)."

Baca Juga

Sang ibu, Mieke Rutte-Siling meninggal pada 13 Mei. Namun, detail keterangan ini menjadi perhatian publik setelah di Inggris muncul kontroversi tentang Dominic Cummings, penasihat utama Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

Cummings mengajak istri dan anaknya bepergian sejauh 400 kilometer dari London ke Durham, tempat orang tuanya berada. Padahal, saat itu Inggris sedang memberlakukan lockdown. Cummings mengatakan, perjalanan itu diperlukan karena ia mungkin akan menitipkan sang anak kepada orang tua Cummings. Cummings dan istrinya memang diduga terinfeksi virus corona. Ia pun menggelar jumpa pers dan menyatakan tidak merasa menyesal atas tindakannya. 

Namun, keputusannya bepergian saat lockdown memantik kemarahan di kalangan warga Inggris. Bahkan sejumlah anggota parlemen dari Partai Konservatif menuntut PM Johnson untuk mencopot Cummings. 

Kecewa karena PM Johnson tidak tegas, seorang menteri yunior asal Skotlandia, Douglas Ross, menyatakan mundur. Ia mengatakan, kemundurannya adalah bentuk tanggung jawab untuk memprotes tindakan salah. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile