Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

6 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Etika Berdzikir

Kamis 13 Aug 2020 21:39 WIB

Rep: Nashih Nashrullah/ Red: Muhammad Hafil

Berzikir (ilustrasi)

Berzikir (ilustrasi)

Foto: blog.sience.gc.ca
Berdzikir memiliki etika.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berzikir, mengingat Allah SWT adalah inti dari semua ritual ibadah. Segala bentuk penghambaan dan ketaatan seorang Muslim akan hampa makna bila tak disertai zikir. Berzikir di sini, menurut tokoh sufi ternama Imam al-Junaid, menghadirkan Sang Khalik di hati dan pikiran dengan segala bentuk kepasrahan dan penghormatan. Aktivitas ini akan berimbas pada munculnya rasa takut dan ketaatan untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Di sinilah letak kebesaran zikir. “Dan sesungguhnya, mengingat Allah adalah lebih besar.” (QS al-Ankabuut [29]: 45). Rasulullah SAW dalam hadis riwayat at-Tirmidzi menyatakan, zikir memiliki keutamaan yang besar.

Baca Juga

Berzikir adalah sebaik-baik amal. Zikir ialah perbuatan yang paling berkualitas di sisi-Nya dan mampu mengangkat derajat seorang hamba lebih tinggi lagi. Rasul dalam hadis itu juga menempatkan zikir lebih utama dibanding berhadapan dengan musuh yang tanpa disertai dengan zikir.

Syekh Muhammad Shalih al-Munjid dalam artikelnya berjudul “Adab Dzikrillah”menjelaskan, kelebihan zikir terletak pada fleksibilitasnya. Zikir tak terbatas oleh ruang dan waktu.

Kapan dan di mana saja, seseorang bisa mengingat Sang Pencipta. Karenanya, zikir merupakan amalan satu-satunya yang diperintahkan Allah untuk diperbanyak. “ Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS al-Ahzab [33]: 41).

Sahabat Mu'adz bin Jabal mengatakan, kriteria para penghuni surga ialah mereka akan menyesal bila melewatkan sesaat pun tanpa berzikir. Tentunya, zikir yang berkualitas. Zikir yang memicu rasa takut, kecintaan, dan takwa, serta iman kepada-Nya.

Ketiadaan efek positif dari berzikir tersebut dijadikan sebagai salah satu tanda-tanda kemunafikan. Para munafik, tak lepas berzikir. Tetapi, zikir yang dilakukan tak berbekas apa pun di kehidupan nyata mereka. “Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS an-Nisaa' [4]: 142).

Syekh Shalih mengatakan, bila keimanan seseorang diumpamakan sebuah pohon, akidah adalah akar yang bercokol kuat, amal saleh diibaratkan ranting pohon, dan budi pekerti mulia adalah buahnya. Maka, zikir adalah air jernih yang senantiasa mengaliri dan membasahi tanaman itu.

Ini seperti riwayat dari ad-Dailami, yaitu membaca Alquran dan berzikir akan menumbuhkan keimanan di kalbu, laksana air menghidupi pohon. “Perumpaan orang yang berzikir dan tidak, seperti orang hidup dan mayat,” sabda Rasulullah di riwayat Bukhari.

Jika lidah basah oleh zikir dan hati terbentengi dengannya, nafsu akan terjaga dari perkara yang batil. Dengan memperbanyak zikir yang khusyuk, akan menghindarkan diri dari perbuatan dosa. Mereka yang bergelimang dosa adalah pribadi-pribadi yang tandus dari zikir. “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS al-Kahfi [18]: 28).

Keutamaan ini tidak hanya berlaku secara personal. Keistimewaan berzikir bisa diperoleh secara kolektif dan berjamaah. Berzikir secara berjamaah juga sangat bermanfaat. Hadis riwayat Muslim menyebutkan, tidaklah sekolompok orang yang berzikir bersama kecuali para malaikat akan mengelilingi mereka. Rahmat Allah bersama mereka yang berzikir, ketenangan akan mereka peroleh, dan Allah akan mengingat mereka.

Namun, kata Syekh Shalih, dalam berzikir ada etika. Serangkaian etika itu, akan menyempurnakan dan menambah kualitas zikir. Apa saja? Ia menguraikan, bila ingin mengonsentrasikan diri berzikir, pertama kali yang penting dilakukan ialah mencari waktu yang tepat dan efektif. Misal, pada pagi dan malam hari. Di riwayat Muslim dijelaskan, berzikirlah saat fajar dan bakda shalat Ashar.

Jangan lupa, kata Syekh Shalih, ketika akan memfokuskan diri berzikir, hendaknya bersuci terlebih dahulu. Baik dari hadas kecil atau besar. Ketika berhadas kecil maka berwudulah. Wudu yang dilakukan secara benar, kata Umar bin Khatab, akan mengusir setan.

Lalu, duduklah dengan saksama dan khusyuk. Konsentrasikan pikiran dan hati Anda, hanya kepada-Nya. Hiraukan sementara kebisingan dan hiruk-pikuk duniawi di sekitar Anda. Bila diperlukan, pejamkan mata Anda. Ini akan memudahkan Anda menekan hawa nafsu.

Mulailah dengan beristighfar dan bertobat atas segala dosa yang pernah diperbuat. “Dan (juga), orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.” (QS al-Imran [3]: 135).

Serapi dan maknai tiap kebesaran Sang Pencipta. Dia yang menciptakan segala yang ada di alam semesta. Kekuasaannya tak terbatas. Ia memberikan kesempatan jantung berdetak tiap detiknya. Membiarkan paru-paru untuk menghisap udara. Raga dan jiwa beraktivitas berkat kuasa-Nya.

Tancapkan dalam kalbu, keluarkan melalui lisan, dan tundukkan jiwa. Zikir yang berasal dari relung hati paling dalam akan menggerakkan seluruh anggota tubuh. Tak terkecuali menyulut air mata. Menangislah.

Dengan menangis, seperti dalam hadis riwayat Abu Ya'la dari Ibnu Abbas, mata tersebut kelak tak akan tersentuh bara api neraka. Dan, tak ketinggalan, aktualisasikan manfaat dan buah berzikir di kehidupan nyata.

Serasikan antara kesalihan zikir dan kesalihan sosial. Pemuka sufi tersohor, Hasan al-Bahsri, pernah berkata, berzikir antara hamba dan Tuhannya memang utama. Lebih mulia lagi, bila zikir menjadi daya penggerak kesalehan di muka bumi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile