Selasa 01 Sep 2020 21:20 WIB

In Picture: Limbah Proyek Kereta Cepat Cemari Air Desa Sekitar

.

Rep: Abdan Syakura/ Red: Yogi Ardhi

Warga menunjukkan sampel air yang tercemar limbah pembuangan proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di Desa Puteran, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (1/9). Berdasarkan keterangan warga, sumber air yang biasa digunakan untuk mandi, cuci, kakus (MCK) dan mengairi sawah menjadi kotor dan mengakibatkan gatal dampak dari limbah pembuangan proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di kawasan tersebut. Foto: Abdan Syakura/Republika (FOTO : ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Warga menunjukkan sampel air yang tercemar limbah pembuangan proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di Desa Puteran, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (1/9). Berdasarkan keterangan warga, sumber air yang biasa digunakan untuk mandi, cuci, kakus (MCK) dan mengairi sawah menjadi kotor dan mengakibatkan gatal dampak dari limbah pembuangan proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di kawasan tersebut. Foto: Abdan Syakura/Republika (FOTO : ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Warga menunjukkan sampel air yang tercemar limbah pembuangan proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di Desa Puteran, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (1/9). Berdasarkan keterangan warga, sumber air yang biasa digunakan untuk mandi, cuci, kakus (MCK) dan mengairi sawah menjadi kotor dan mengakibatkan gatal dampak dari limbah pembuangan proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di kawasan tersebut. Foto: Abdan Syakura/Republika (FOTO : ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Petugas menggunakan alat berat beraktivitas di salah satu pembuangan limbah proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di Desa Puteran, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (1/9). Berdasarkan keterangan warga, sumber air yang biasa digunakan untuk mandi, cuci, kakus (MCK) dan mengairi sawah menjadi kotor dan mengakibatkan gatal dampak dari limbah pembuangan proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di kawasan tersebut. Foto: Abdan Syakura/Republika (FOTO : ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Petugas menggunakan alat berat beraktivitas di salah satu pembuangan limbah proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di Desa Puteran, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (1/9). Berdasarkan keterangan warga, sumber air yang biasa digunakan untuk mandi, cuci, kakus (MCK) dan mengairi sawah menjadi kotor dan mengakibatkan gatal dampak dari limbah pembuangan proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di kawasan tersebut. Foto: Abdan Syakura/Republika (FOTO : ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Petugas menggunakan alat berat beraktivitas di salah satu pembuangan limbah proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di Desa Puteran, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (1/9). Berdasarkan keterangan warga, sumber air yang biasa digunakan untuk mandi, cuci, kakus (MCK) dan mengairi sawah menjadi kotor dan mengakibatkan gatal dampak dari limbah pembuangan proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di kawasan tersebut. Foto: Abdan Syakura/Republika (FOTO : ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Petugas menggunakan alat berat beraktivitas di salah satu pembuangan limbah proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di Desa Puteran, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (1/9). Berdasarkan keterangan warga, sumber air yang biasa digunakan untuk mandi, cuci, kakus (MCK) dan mengairi sawah menjadi kotor dan mengakibatkan gatal dampak dari limbah pembuangan proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di kawasan tersebut. Foto: Abdan Syakura/Republika (FOTO : ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

inline

REPUBLIKA.CO.ID, CIKALONG -- Warga mengeluhkan air di lingkungannya tercemar limbah pembuangan proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung di Desa Puteran, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (1/9).

Sisa semen dibuang di lahan-lahan tanpa pengolahan limbah terlebih dahulu.  Berdasarkan keterangan warga, sumber air yang biasa digunakan untuk mandi, cuci, kakus (MCK) dan mengairi sawah menjadi kotor.

 

sumber : Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement