Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

14 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Tokoh Muslim Yunani Kecam Penghinaan Nabi Muhammad

Senin 09 Nov 2020 11:09 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Ani Nursalikah

Tokoh Muslim Yunani Kecam Penghinaan Nabi Muhammad. Umat Muslim sholat dengan menjaga jarak sosial di masjid Pusat Budaya Pendidikan Yunani-Arab di Athena.

Tokoh Muslim Yunani Kecam Penghinaan Nabi Muhammad. Umat Muslim sholat dengan menjaga jarak sosial di masjid Pusat Budaya Pendidikan Yunani-Arab di Athena.

Foto: Anadolu/Ayhan Mehmet
Kebebasan berbicara tidak ada hubungannya dengan penghinaan Nabi Muhammad.

REPUBLIKA.CO.ID, ATHENA -- Pemimpin Muslim Pomak di Yunani mengecam penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW di Prancis. Dalam percakapan telepon dengan Atase Kebudayaan Iran di Yunani, dilansir di ABNA, Senin (9/11), Sheikh Ahmed Imam juga mengutuk dukungan Presiden Prancis Emmanuel Macron atas tindakan penodaan tersebut.

Dia mengatakan, penerbitan ulang kartun yang menghina Nabi Muhammad (SAW) oleh majalah Prancis atas nama kebebasan berbicara tidak dapat diterima. Sheikh Ahmed Imam lantas menekankan kebebasan berbicara tidak ada hubungannya dengan penghinaan terhadap kesucian suatu agama.

Baca Juga

Dia lebih jauh menyerukan kampanye global mengutuk penghinaan terhadap Nabi (SAW). Pomak adalah Muslim berbahasa Bulgaria yang mendiami Bulgaria, Yunani timur laut, dan Turki barat laut.

Sebelumnya, majalah satir Prancis Charlie Hebdo mencetak ulang karikatur Nabi Muhammad (SAW) bulan lalu. Kartun tersebut awalnya diterbitkan oleh surat kabar Denmark Jyllands-Posten pada 2005, dan kemudian diterbitkan ulang oleh Charlie Hebdo pada 2006.

photo
Infografis Charlie Hebdo Muat Lagi Kartun Nabi SAW - (Republika.co.id)
 

Tindakan Charlie Hebdo menuai kritik keras dari negara-negara Muslim yang menyebutnya sebagai tindakan Islamofobia, meskipun Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak untuk mengutuk tindakan tersebut. Macron mengutip itu sebagai kebebasan berekspresi dan mengklaim bahwa tidak tepat bagi seorang pemimpin politik untuk terlibat dalam masalah editorial.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile