Wednesday, 12 Muharram 1444 / 10 August 2022

Wednesday, 12 Muharram 1444 / 10 August 2022

12 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Komisi Perlindungan Data Singapura Selidiki Muslim Pro

Jumat 20 Nov 2020 22:13 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Komisi Perlindungan Data Singapura Selidiki Muslim Pro. Aplikasi Muslim Pro.

Komisi Perlindungan Data Singapura Selidiki Muslim Pro. Aplikasi Muslim Pro.

Foto: Tangkapan Layar
Komisi tersebut mengimbau pengguna memperhatikan data pribadi yang mereka berikan.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Personal Data Protection Commission/Komisi Perlindungan Data Pribadi (PDPC) Singapura sedang menyelidiki pengembang aplikasi religi Muslim Pro yang berbasis di Singapura, Bitsmedia. Penyelidikan dilakukan setelah adanya tuduhan perusahaan tersebut menjual data pribadi penggunanya kepada militer Amerika Serikat (AS).

Juru bicara PDPC mengatakan, komisi tersebut meminta informasi lebih rinci dari Bitsmedia. PDPC mengingatkan pengguna memperhatikan jenis izin, data pribadi yang mereka berikan, dan bagaimana itu dapat digunakan.

Baca Juga

Dalam sebuah pernyataan di situsnya, Bitsmedia membantah tuduhan tersebut. Laporan soal penjualan data pribadi pengguna pertama kali muncul di outlet berita AS Vice. Mereka menyatakan telah melakukan penyelidikan internal terhadap masalah tersebut.

Vice melaporkan pada Senin (16/11) bahwa militer AS membeli data pergerakan granular individu secara global. Laporan tersebut menyatakan, data pengguna dari Muslim Pro, sebuah aplikasi yang menampilkan Alquran dan jadwal sholat, dijual ke X-mode, broker data yang berbasis di AS. Pelanggan broker tersebut diduga termasuk kontraktor pertahanan militer AS.

Data tersebut berdasarkan laporan Vice, termasuk detail lokasi, nama jaringan Wi-Fi yang dipakai pengguna, cap waktu, dan informasi tentang ponsel pengguna. Bitsmedia menyampaikan dalam pernyataannya pada Selasa (17/11) malam mereka telah memutuskan hubungannya dengan semua mitra data, termasuk X-Mode.

Perusahaan menambahkan, data penggunanya aman. Mereka juga meminta maaf kepada pengguna atas kekhawatiran yang disebabkan oleh laporan media.

Adapun organisasi dengan aplikasi seluler yang tersedia untuk pengguna Singapura harus mematuhi persyaratan perlindungan data dari Personal Data Protection Act (PDPA). Dengan disahkannya amandemen PDPA di Parlemen baru-baru ini, hukuman finansial maksimum untuk pelanggaran Undang-undang tersebut akan dinaikkan menjadi 10 persen dari pendapatan tahunan organisasi di Singapura atau satu juta dolar singapura, mana saja yang lebih tinggi. Untuk saat ini batasnya satu juta dolar singapura.

https://www.businesstimes.com.sg/garage/singapores-pdpc-investigating-allegations-that-muslim-pro-sold-user-data-to-us-military

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile