Jumat 27 Nov 2020 15:21 WIB

Fokus Pariwisata Diubah, Wishnutama: Konsekuensinya Besar

Pemerintah akan memprioritaskan kualitas wisman ketimbang jumlah wisman

Rep: Dedy Darmawan Nasution / Red: Hiru Muhammad
Wisatawan mengamati kera ekor panjang (Macaca fascicularis) saat mengunjungi Monkey Forest Ubud, Gianyar, Bali, Kamis (5/11/2020). Objek wisata unggulan di kawasan Ubud tersebut resmi dibuka kembali untuk kunjungan wisatawan setelah sempat ditutup sejak akhir bulan Maret lalu akibat pandemi COVID-19.
Foto: Antara/Fikri Yusuf
Wisatawan mengamati kera ekor panjang (Macaca fascicularis) saat mengunjungi Monkey Forest Ubud, Gianyar, Bali, Kamis (5/11/2020). Objek wisata unggulan di kawasan Ubud tersebut resmi dibuka kembali untuk kunjungan wisatawan setelah sempat ditutup sejak akhir bulan Maret lalu akibat pandemi COVID-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mulai mengubah fokus pariwisata dalam menggaet kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Pemerintah mulai tahun depan akan memprioritaskan kualitas wisman ketimbang jumlah wisman yang masuk ke Indonesia.

"Suatu langkah besar kepariwisataan kita adalah shifting dari kuantitas ke kualitas. Ternyata, strategi ini punya konsekuensi yang sangat besar, tidak sederhana," kata Wishnutama dalam Rapat Koordinasi Nasional Percepatan Pengembangan Lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas, Jumat (27/11).

Ia menilai, selama ini Indonesia cukup puas dengan pencapaian kunjungan wisman yang dicapai. Tahun lalu, total wisman yang datang ke Indonesia mencapai 16,1 juta atau terus mengalami tren kenaikan sejak 2015 lalu. Dari kunjungan itu, devisa yang diperoleh mencapai Rp 280 triliun.  

Wishnutama menyampaikan, Malaysia tahun lalu bisa mendapatkan 18 juta kunjungan wisman, Singapura 18 juta kunjungan, bahkan Thailand tembus hingga 39 juta kunjungan. Sementara itu, Australia yang juga menjadi negara tetangga Indonesia hanya mendapatkan 10 juta kunjungan wisman. "Tapi, dari jumlah itu, devisa pariwisata yang diperoleh Australia mencapai 45 miliar dolar AS (sekitar Rp 635 triliun). Ini artinya kita harus mencoba quality tourism," kata Wishnutama.