Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

9 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

IDAI Beri Bahan Pertimbangan Ortu untuk Sekolah Tatap Muka

Kamis 03 Dec 2020 09:39 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Kepala Disdikbudpora Pemkab Semarang Sukaton Purtomo (kanan) memberikan arahan protokol kesehatan kepada siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di SMP N 6 Lerep Satu Atap, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (27/11/2020). IDAI mengingatkan orang tua untuk mempertimbangkan sejumlah hal sebelum mengizinkan anak kembali ke sekolah.

Kepala Disdikbudpora Pemkab Semarang Sukaton Purtomo (kanan) memberikan arahan protokol kesehatan kepada siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di SMP N 6 Lerep Satu Atap, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (27/11/2020). IDAI mengingatkan orang tua untuk mempertimbangkan sejumlah hal sebelum mengizinkan anak kembali ke sekolah.

Foto: AJI STYAWAN/ANTARA
Ada tiga pertimbangan yang perlu dipikirkan orang tua terkait sekolah tatap muka.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Persetujuan orang tua atau wali murid merupakan salah satu syarat yang diperlukan dalam penerapan pembelajaran tatap muka di masa pandemi Covid-19. Setidaknya, ada tiga hal penting yang perlu dipertimbangkan orang tua sebelum membuat keputusan terkait penerapan pembelajaran tatap muka.

"Ini harus kami sampaikan, pertimbangan yang orang tua harus paham," kata Ketua Pengurus Besar IDAI Dr dr Aman B Pulungan SpA(K) FAAP FRCPI (Hon) dalam Seminar Media IDAI yang diselenggarakan secara virtual, disimak di Jakarta, Kamis (3/12).

Baca Juga

Pertimbangan pertama

Berdasarkan pengalaman di beberapa negara, diketahui bahwa kegiatan pembelajaran tatap muka memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya lonjakan kasus Covid-19. Oleh karena itu, hal pertama yang sebaiknya dilakukan orang tua adalah tetap mendukung kegiatan belajar dari rumah, baik sebagian maupun sepenuhnya.

Pertimbangan kedua

Orang tua juga perlu mempertimbangkan apakah partisipasi anak dalam kegiatan pembelajaran tatap muka lebih bermanfaat atau justru dapat meningkatkan risiko penularan pada anak. Untuk mengetahuinya, orang tua perlu melakukan penilaian terhadap empat hal, sebagai berikut:

1. Apakah anak sudah mampu menerapkan protokol kesehatan dengan baik atau belum?

Protokol kesehatan ini mencakup kebiasaan mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak.

2. Apakah anak masih sangat memerlukan pendampingan orang tua atau tidak saat sekolah?

Bila masih, sebaiknya anak tetap melanjutkan kegiatan pembelajaran jarak jauh dulu.

3. Apakah anak memiliki kondisi komorbid yang dapat meningkatkan risiko sakit parah bila tertular Covid-19?

Bila ada, Anak lebih disarankan belajar dari rumah.

"Bagaimana tahu anak ada komorbid atau tidak, konsultasikan dengan dokter anak," jelas dr Aman.

4. Apakah ada kelompok lanjut usia atau risiko tinggi yang tinggal di rumah dan mungkin tertular bila anggota di rumah banyak beraktivitas di luar rumah?

Pertimbangan Ketiga

Sebelum memutuskan untuk menyetujui pembelajaran tatap muka, orang tua harus memastikan kesiapan sekolah dalam mencegah penularan Covid-19 di sekolah. Sekolah harus memenuhi standar protokol kesehatan yang berlaku.

"Tolong orang tua lihat apakah sekolah sesuai protoko;, bagaimana ventilasinya, (ketersediaan fasilitas) cuci tangan, penerapan jaga jarak, dan lainnya," kata dr Aman.

Kalau setuju

Apablia menyetujui partisipasi anak dalam kegiatan pembelajaran tatap muka, orang tua perlu mempersiapkan beragam kebutuhan penunjangnya. Salah satunya adalah rencana transportasi yang aman dari dan ke sekolah.

Beberapa penunjang lainya adalah bekal makanan dan air minum, masker wajah, dan pembersih tangan. Selain itu, orang tua perlu mempersiapkan rencana tindak lanjut bila mendapat kabar dari sekolah bahwa anak sakit, misalnya, sudah mengetahui fasilitas kesehatan mana yang akan dituju untuk melakukan perawatan selanjutnya, asuransi kesehatan, dan hal-hal penting lainnya.

"Kalau belum tahu hal-hal ini jangan pernah mengirim anak ke sekolah," jelas dr Aman.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile