REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara menegaskan pihaknya terus melakukan investigasi kasus tewasnya enam Laskar Front Pembela Islam (FPI). Pihaknya berencana akan memanggil saksi dari Kepolisian yang terlibat dalam bentrokan dengan FPI di Tol Jakarta-Cikampek pada Senin (7/12) dini hari WIB.
"Pastinya itu kami akan memeriksa saksi dari polisi juga akan mendalami keterangan dari keluarga korban seperti tadi pagi keluarga korban dan kawan-kawan FPI telah datang ke Komnas HAM memberikan keterangan tambahan," ujar Beka di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (21/12).
Selain polisi yang terlibat dalam insiden berdarah itu, kata Beka, Tim Penyelidik dari Komnas HAM juga akan memeriksa polisi yang memeriksa mobil-mobil yang digunakan dalam bentrokan. Karena pihaknya, membutuhkan keterbukaan dari semua pihak. Jadi bukan hanya ada yang di dalam mobil tapi juga semua petugas polisi. Sehingga, dapat membuat terang benderang dan supaya tidak ada spekulasi.
"Kenapa polisi banyak di situ? Tugasnya apa? Ini juga materi dari Komnas HAM," ungkap Beka.
Beka melanjutkan, Tim Penyelidik Komnas HAM juga akan memeriksa saksi-saksi dari FPI. Termasuk terhadap empat orang Laskar FPI yang diduga oleh polisi melarikan diri saat peristiwa berdarah itu terjadi. Kemudian jika pihak FPI masih memiliki saksi-saksi lain juga akan dilakukan pemeriksaan. Selain itu juga akan mendalami keterangan dari keluarga korban yang dilaporkan pada hari ini.
"Tentunya kami akan memeriksa lagi keterangan hari ini tadi pagi dengan keterangan sore ini (hasil pemeriksaan tiga unit mobil) untuk kemudian kami validasi lagi dan kami verifikasi lagi," ungkap Beka.
Dalam kesempatan itu, Beka memimpin Tim Penyelidikan Komnas HAM untuk memeriksa barang bukti tiga unit mobil yang terlibat bentrokan antara Polisi dengan FPI. Namun Komnas HAM belum bisa memberikan kesimpulan terkait hasil dari pemeriksaan yang berlangsung di parkiran Resmob Polda Metro Jaya tersebut.
"Kami belum bisa menyimpulkan apakah keterangan yang disampaikan teman-teman kepolisian di Komnas HAM dengan sekarang ini identik atau tidak, karena butuh analisa lebih dalam lagi," kata Beka.
Lebih lanjut, Beka mengatakan, ada beberapa hal yang harus ditindaklanjuti setelah pemeriksaan tiga unit mobil tersebut. Salah satunya, terkait dengan hasil uji balistiknya, seperti apa terus siapa saja yang menembak. Sehingga, pihaknya membutuhkan pendalaman termasuk juga cek darah dari anggota FPI tersebut.
"Siapa saja yang ada di sudut situ, sudut sini juga butuh pendalaman lagi. Kami juga berkomitmen dengan kawan-kawan untuk juga ada tindak lanjut pendalaman yang berkaitan dengan yang sudah saya sampaikan soal uji balistik dan uji darahnya," terang Beka.
Komnas HAM memeriksa tiga unit kendaraan, dengan rincian dua mobil Avanza warna silver dan satu mobil Chevrolet Spin warna hitam. Kaca depan salah satu mobil Avanza tampak retak dan sementara satu Avanza lainnya terdapat dua lubang seperti bekas peluru di bagian samping kanan.
Sementara, satu unit Chevrolet Spin warna abu-abu gelap tampak rusak parah. Terlihat satu ban sebelah kiri sudah hancur tinggal menyisakan peleknya saja. Sayangnya awak media tidak berkenan untuk mendekat, sehingga tidak bisa secara mendetail kondisi mobil tersebut. Para penyilidik Komnas HAM memeriksa detil setiap bagian mobil, sembari mencatat hal yang dirasa penting sebagai bahan penyelidikan.
Dirtipidum Bareskrim Brigjen Polisi Andi Rian Djajadi menegaskan pihaknya akan selalu kooperatif menanggapi permintaan Komnas HAM untuk menyelidiki kasus tewasnya enam Laskar Front Pembela Islam (FPI). Bahkan hari ini, Senin (21/12) pihaknya memenuhi permintaan Komnas HAM untuk memeriksa barang bukti tiga unit mobil.
"Saya selaku penyidikan terkait dugaan penyerangan petugas Polri oleh FPI, saya pastikan bahwa kami tim penyidik akan selalu dan tetap akan kooperatif dengan semua pihak," terang Andi Rian di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (21/12).