Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

27 Zulqaidah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Dewan Muslim Inggris Gugat Kremasi Paksa Muslim Sri Lanka

Kamis 31 Dec 2020 04:01 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah

Dewan Muslim Inggris Gugat Kremasi Paksa Muslim Sri Lanka. Para biksu Buddha Sri Lanka yang pro-pemerintah memegang plakat selama protes di luar kantor presiden meminta pemerintah untuk tidak meninjau kebijakan kremasi wajib bagi korban COVID-19 Muslim, di Kolombo, Sri Lanka, Senin, 28 Desember 2020.

Dewan Muslim Inggris Gugat Kremasi Paksa Muslim Sri Lanka. Para biksu Buddha Sri Lanka yang pro-pemerintah memegang plakat selama protes di luar kantor presiden meminta pemerintah untuk tidak meninjau kebijakan kremasi wajib bagi korban COVID-19 Muslim, di Kolombo, Sri Lanka, Senin, 28 Desember 2020.

Foto: AP/Eranga Jayawardena
Keluarga Kristen Sri Lanka juga terdampak kremasi paksa.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Pemerintah Sri Lanka memutuskan orang yang meninggal karena Covid-19 harus dikremasi. Keputusan ini juga berlaku bagi Muslim. Hal ini jelas-jelas melanggar keyakinan agama mereka.

Atas keputusan tersebut, Dewan Muslim Inggris lantas meluncurkan gugatan hukum terhadap kebijakan Pemerintah Sri Lanka itu. Desakan untuk melakukan kremasi juga telah menyebabkan tekanan besar di antara minoritas Muslim di Sri Lanka. Agama Islam menetapkan setiap orang yang meninggal dunia harus dikuburkan.

Baca Juga

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan pedoman yang mengizinkan penguburan maupun kremasi bagi orang yang meninggal karena Covid. Tetapi, Pemerintah Sri Lanka memilih mengadopsi kebijakan kremasi wajib sejak Maret 2020.

Dilansir di The Guardian, Kamis (31/12), awal bulan Desember ini, seorang bayi berusia 20 hari yang meninggal karena Covid-19 menjalani proses kremasi yang bertentangan dengan keinginan keluarga. Ayah anak tersebut berkata dia tidak tahan menyaksikan proses tersebut.

“Saya tidak bisa pergi ke tempat mereka membakar bayi saya. Teman dan keluarga bertanya kepada pihak berwenang, bagaimana mereka dapat melanjutkan kremasi ketika tidak ada orang tua yang menandatangani dokumen persetujuan apa pun. Mereka bilang karena bayinya pasien positif Covid-19, mereka boleh dikremasi,” kata orang tua sang bayi, MFM Fahim, kepada Al Jazirah.

 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile