Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

Sunday, 6 Rabiul Awwal 1444 / 02 October 2022

 

6 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Menggotong Tiang, Beri Terang ke Puncak Pugag

Kamis 25 Feb 2021 13:05 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Agus Yulianto

Blok Pugag, Dusun Kujangsari, Desa Kutawaringin, Kecamatan Selajambe, Kabupaten Kuningan.

Blok Pugag, Dusun Kujangsari, Desa Kutawaringin, Kecamatan Selajambe, Kabupaten Kuningan.

Foto: Istimewa
Blok Pugag terletak di puncak bukit dengan ketinggian 1.500 meter dpl.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Lilis Sri Handayani

 

Matahari belum terlalu condong ke barat di Blok Pugag. Namun, suasana blok yang terletak di Dusun Kujangsari, Desa Kutawaringin, Kecamatan Selajambe, Kabupaten Kuningan itu, sudah mulai temaram akibat turunnya kabut.

Blok Pugag terletak di puncak bukit dengan ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Dengan kondisi itu, kabut menjadi selimut alam bagi warga di sana. Kehadirannya memberi rasa dingin dan menghadirkan temaram, meski matahari belum benar-benar terbenam.

Lampu pun mulai dinyalakan di rumah-rumah warga di Pugag. Lampu itu menyala berkat adanya listrik yang teraliri dari bentangan kabel yang terpasang pada tiang listrik.

Tiang listrik di Pugag baru hadir pada 2013. Tiang tersebut menyambungkan kabel yang membentang dari tiang-tiang listrik lain yang berderet hingga Dusun Kujangsari, yang posisinya ada di bawahnya.

Kehadiran tiang listrik itu menyimpan kisah tersendiri bagi warga Pugag. Kisah tentang mimpi akan hadirnya listrik, sekaligus kisah perjuangan berat untuk menghadirkannya. Ada pula cerita tentang gotong royong dan keikhlasan warga untuk menggotongnya.

"Sebelum 2013, listrik hanya menjadi mimpi bagi warga Pugag," tutur tokoh masyarakat Dusun Kujangsari, Eno Sulaena, saat berbincang dengan Republika, pertengahan Februari 2021.

Eno menceritakan, selama puluhan tahun, warga Pugag hanya bisa menikmati cahaya di malam hari dari lampu minyak tanah. Namun, minyak tanah sulit mereka peroleh saat pemerintah mengkonversinya menjadi gas elpiji mulai 2007. Malam di Pugag pun menjadi gelap tanpa kehadiran lampu minyak.

Blok Pugag kemudian mendapat bantuan dari pemerintah untuk pemasangan listrik dengan tenaga surya. Sayang, listrik tersebut tak bisa maksimal menerangi. Kabut yang setiap hari menyelimuti Pugag, menjadi kendalanya. Apalagi jika cuaca mendung dan hujan.

"Lampu hanya bisa menyala sekitar tiga jam saja setiap harinya. Itupun riyem-riyem (terangnya tidak maksimal)," tutur Eno.

 

photo
Puncak berkabut Blok Pugag, Dusun Kujangsari, Desa Kutawaringin, Kecamatan Selajambe, Kabupaten Kuningan. - (Istimewa)

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile