Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

5 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Hukum Meratapi Musibah Berlebihan dan Menyalahkan Allah?

Senin 01 Mar 2021 22:12 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Ani Nursalikah

Hukum Meratapi Musibah Berlebihan dan Menyalahkan Allah? Seorang ibu menggendong anaknya melintasi pemukiman yang masih terendam banjir di Karangligar, Telukjambe Barat, Karawang, Jawa Barat, Kamis (25/2/2021).

Hukum Meratapi Musibah Berlebihan dan Menyalahkan Allah? Seorang ibu menggendong anaknya melintasi pemukiman yang masih terendam banjir di Karangligar, Telukjambe Barat, Karawang, Jawa Barat, Kamis (25/2/2021).

Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A
Mempercayai akan takdir Allah adalah bagian dari rukun iman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bencana banjir melanda sejumlah daerah baru-baru ini. Bahkan di beberapa tempat banjir tidak hanya merendam pemukiman warga, namun juga menghanyutkan harta benda, kendaraan dan hewan ternak.

Tak dapat dipungkiri ada warga yang merespons bencana banjir yang merendam rumah dan merusak harta bendanya dengan meratapinya berlebihan, bahkan hingga menyalahkan Allah. Berkaitan dengan itu bagaimana hukumnya meratapi musibah dengan berlebihan dan bahkan sampai menyalahkan Allah karena bencana yang terjadi? Dan seperti apa tuntunan Islam ketika seorang Muslim tertimpa bencana?

Baca Juga

Sejatinya setiap manusia-sekalipun orang beriman-pasti akan mengalami ujian dalam hidupnya. Bahkan dijelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 155 Allah menguji manusia dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, dan kehilangan jiwa.

Begitupun dengan bencana alam seperti banjir, yang merupakan salah satu bentuk ujian Allah kepada hambanya. Pendakwah yang juga sekretaris jenderal Pengurus Besar Jam'iyatul Washliyah KH Masyhuril Khamis menjelaskan salah satu sifat yang wajib ada dalam diri seorang Muslim adalah memiliki sifat qanaah, yaitu sifat puas hati, syukur, dan ridha atas apa yang Allah takdirkan.

Orang yang qanaah menurut kiai Masyhuril tidak akan menyalahkan atau berprasangka buruk kepada siapa pun apalagi terhadap Allah dari segala hal yang menimpanya. Kiai Masyhuril yang juga penulis buku Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah menjelaskan orang yang qanaah akan selalu mengiringi dengan sabar dan ikhlas ketika menghadapi ujian dan akan bersyukur ketika mendapatkan nikmat.

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile