Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

 

7 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

OECD: BUMN Terlalu Mendominasi Pangsa Pasar

Jumat 19 Mar 2021 05:12 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolandha

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menyoroti tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menyoroti tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Foto: ANTARA/Aprillio Akbar
Pemerintah dinilai memperlakukan khusus BUMN seperti dibebaskan dari antitrust.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menyoroti tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN). OECD juga menyebut BUMN diperlakukan khusus misalnya seperti dibebaskan dari kebijakan antitrust, artinya pemerintah seolah melanggengkan praktik monopoli yang dilakukan BUMN. 

 

Berdasarkan survei ekonomi OECD terhadap Indonesia edisi Maret 2021, BUMN terlalu mendominasi pangsa pasar. Praktik tersebut selalu berlindung di balik alasan bahwa BUMN berperan untuk pencapaian tujuan pembangunan nasional.

Baca Juga

Menurut OECD, pengecualian BUMN dari kebijakan antitrust tersebut justru melemahkan prinsip netralitas kompetitif bahwa bisnis swasta mampu bersaing dengan BUMN.

“Misalnya, sektor ritel bahan bakar khusus, pangsa pasar Pertamina adalah 96 persen pada 2016. Sementara bank-bank BUMN menyumbang 40 persen dari aset perbankan nasional. Dalam infrastruktur seperti air, jalan tol, pelabuhan, dan bandara, dominasi BUMN juga bersifat mutlak. Bio Farma merupakan satu-satunya produsen vaksin dan serum di Indonesia,” tulis OECD dalam Survei Ekonomi edisi Maret 2021, seperti dikutip Jumat (19/3).

Tak hanya soal dominasi, OECD juga menyoroti BUMN terlalu banyak memiliki anak perusahaan semisal Pertamina memiliki anak perusahaan bidang transportasi udara, pengembangan properti, dan fasilitas kesehatan. OECD mengkritik bahwa hal ini perlu untuk diluruskan. 

Menurut OECD, BUMN harus tunduk pada undang-undang persaingan usaha salah satunya menghilangkan diversifikasi bisnis yang tidak sejalan dengan bisnis inti.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile