Kisah Wasif, Kerap Tunda Berbuka Demi Layani Pengunjung

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Muhammad Hafil

 Rabu 28 Apr 2021 14:38 WIB

Kisah Wasif, Kerap Tunda Berbuka Demi Layani Pengunjung Foto: Khaleej Times Kisah Wasif, Kerap Tunda Berbuka Demi Layani Pengunjung

Wasif kerap menunda berbuka untuk melayani pengunjung.

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI—Bagi Mohammad Wasif, 42 tahun, mengakhiri puasa bersama rekan-rekan kerjanya adalah momen paling dinantikan setelah melewati hari yang sibuk. Namun pekerjaannya sebagai pramusaji di sebuah restoran, membuatnya mengesampingkan hal itu.

“Saya bekerja sebagai pelayan dan jika ada tamu di restoran kami, saya melayani mereka terlebih dahulu sebelum mengakhiri puasa saya,” kata Wasif yang bekerja di Bahijaan's Biryani yang dikutip di Khaleej Times, Rabu (28/4).

Wasif mengatakan, biasanya dia hanya memakan beberapa buka dan segelas air untuk berbuka, dan bersegera sholat, sebelum pesanan kembali berdatangan. Dia dan rekan-rekannya diharuskan mengedepankan pelayanan untuk memastikan agar sektor jasa dapat terus berkembang meski di masa-masa sulit.

Baca Juga

“Saya masuk, paling lambat jam 10 pagi setiap hari. Begitu saya tiba, saya pergi berbelanja bahan makanan dan membantu koki dengan apa pun yang dia butuhkan. Semua bagian persiapan diurus oleh saya dan kolega saya. Di malam hari, setelah melayani tamu kami dan melafalkan namaz (sholat isya), kami duduk untuk menikmati buah-buahan, biryani, kari, dan chapatis bersama,” tuturnya.

Dia mengaku bersyukur berada di negara seaman UEA, mengingat kondisi di sisi dunia lain yang semakin memburuk. “Saya sangat senang berada di negara di mana dorongan vaksinasi begitu kuat. Namun, saya merasa khawatir dengan keluarga saya di rumah,” ujar pria kelahiran India itu.

“Saat saya melayani tamu restoran kami, kami memastikan bahwa kami semua memakai masker, sarung tangan, dan menjaga jarak sosial.”
Gencarnya kampanye vaksinasi membuat staf layanan di restoran, mal ataupun hotel, yang sangat beresiko terpapar virus, mendapatkan keamanan saat bekerja, kata dia.

“Awalnya saya khawatir menghadapi berbagai jenis tamu ketika Covid-19 melanda. Kami bertemu dengan berbagai jenis tamu dan terpapar virus sepanjang waktu. Tapi dorongan inokulasi tentu saja menumbuhkan kepercayaan di kalangan masyarakat,” ujarnya.

Ramadhan, kata dia adalah momen yang ingin dimaksimalkan untuk beribadah dan lebih ikhlas dalam bekerja dan memberikan pelayanan terbaik. “Jadi, setiap pekerjaan yang saya lakukan selama periode ini, saya mencoba untuk memasukkan hati dan jiwa saya ke dalamnya, yang seharusnya terjadi bahkan sebaliknya. Covid-19 telah menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Saya bersyukur bahwa pada saat seperti ini kami memiliki pekerjaan dan kehidupan yang aman di sini,” ujarnya.

Ini adalah Ramadhan kedua di tengah Covid-19 untuk Wasif dan dia berharap itu akan menjadi yang terakhir selama pandemi. “Saya berdoa kepada Allah, dari lubuk hati yang paling dalam, agar pada Ramadhan mendatang pandemi ini benar-benar berakhir,” ujarnya.

Berita Lainnya

Play Podcast X