Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Desktop internasional detail topline

Edit
IDR 2.500.000
desktop_internasional_detail_topline

G7 Layangkan Kritik Pedas ke China dan Rusia

Kamis 06 May 2021 09:10 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Suasana pertemuan para menlu negara G7 di Lancaster House, London pada Selasa (4/5)

Suasana pertemuan para menlu negara G7 di Lancaster House, London pada Selasa (4/5)

Foto: EPA/Andy Rain
G7 menyebut Kremlin sebagai sosok jahat dan Beijing sebagai pengganggu

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - -  Kelompok Tujuh (G7) memberi kritikan pedas terhadap China dan Rusia pada Rabu (5/5). Kelompok ini menyebut Kremlin sebagai sosok jahat dan Beijing sebagai pengganggu.

G7 pekan ini membahas tanggapan mereka terhadap ancaman terbesar saat ini, China, Rusia, dan pandemi virus corona. Menteri Luar Negeri G7 dalam pernyataan 12.400 kata menyatakan Rusia berusaha merusak demokrasi dan mengancam Ukraina. Sementara China bersalah atas pelanggaran hak asasi manusia dan menggunakan pengaruh ekonominya untuk menggertak orang lain.

Grup yang dibentuk pada 1975 itu mengatakan akan meningkatkan upaya kolektif untuk menghentikan kebijakan ekonomi koersif China dan untuk melawan disinformasi Rusia. "Saya pikir (China) lebih mungkin perlu, daripada bereaksi dalam kemarahan, itu lebih mungkin perlu melihat ke cermin dan memahami bahwa itu perlu mempertimbangkan opini yang berkembang ini, yang berpikir aturan dasar internasional ini harus ditaati," kata Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab.

G7 pun telah berjuang untuk menghasilkan tanggapan yang efektif baik terhadap China maupun Rusia. "Kami akan bekerja secara kolektif untuk mendorong ketahanan ekonomi global dalam menghadapi kebijakan dan praktik ekonomi yang sewenang-wenang dan memaksa," kata pernyataan bersama tentang China.

Momen kenaikan ekonomi dan militer China yang spektakuler selama 40 tahun terakhir adalah salah satu peristiwa geopolitik paling signifikan dalam sejarah baru-baru ini, di samping jatuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 yang mengakhiri Perang Dingin.

Mereka mendukung partisipasi Taiwan dalam forum Organisasi Kesehatan Dunia dan Majelis Kesehatan Dunia. Grup ini pun menyatakan keprihatinan tentang tindakan sepihak yang dapat meningkatkan ketegangan di Selat Taiwan.

G7 juga sama-sama mendukung Ukraina, tetapi hanya menawarkan sedikit dukungan. "Kami sangat prihatin bahwa pola negatif dari perilaku tidak bertanggung jawab dan destabilisasi Rusia terus berlanjut," kata menteri G7.

"Ini termasuk penumpukan besar pasukan militer Rusia di perbatasan Ukraina dan di Krimea yang dianeksasi secara ilegal, kegiatan jahatnya yang bertujuan untuk merusak sistem demokrasi negara lain, aktivitas dunia maya yang berbahaya, dan penggunaan disinformasi, " ujar pernyataan G7.

Rusia sejak lama menyangkal campur tangan di luar perbatasannya dan mengatakan Barat dicengkeram oleh histeria anti-Rusia. China mengatakan Barat adalah pengganggu dan para pemimpinnya memiliki pola pikir pasca-kekaisaran yang membuat mereka merasa dapat bertindak seperti polisi global.

Desktop internasional detail text

Edit
IDR 0
desktop_internasional_detail_text

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

Desktop internasional detail berita terkait

Edit
IDR 0
desktop_internasional_detail_berita_terkait
 

BERITA LAINNYA

 

Desktop internasional detail right 1

Edit
IDR 3.500.000
desktop_internasional_detail_right_1
 
 

Desktop internasional detail right 2

Edit
IDR 3.000.000
desktop_internasional_detail_right_2
 

Desktop internasional detail right 3

Edit
IDR 2.500.000
desktop_internasional_detail_right_3
 

Desktop internasional detail right 3

Edit
IDR 2.500.000
desktop_internasional_detail_right_3

Desktop internasional detail right 4

Edit
IDR 2.000.000
desktop_internasional_detail_right_4

Desktop internasional detail bottom Frame

Edit
IDR 4.500.000
desktop_internasional_detail_bottom_Frame