Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Desktop internasional detail topline

Edit
IDR 2.500.000
desktop_internasional_detail_topline

Jepang Prihatin dengan Upaya Sepihak China di LCS dan LCT

Kamis 06 May 2021 12:32 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Peta klaim Laut China Selatan

Peta klaim Laut China Selatan

Foto: wikipedia
Jepang akan memberikan bantuan ke Filipina yang bersengketa dengan China di LCS.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Jepang menyatakan keprihatinan besar terhadap upaya sepihak China yang ingin mengubah status quo di Laut Cina Timur (LCT) serta di Laut Cina Selatan (LCS). Keprihatinan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi pada pertemuan para menteri luar negeri Kelompok Tujuh (G7) yang sedang berlangsung di ibu kota Inggris, London.

Laut China Selatan memiliki kekayaan sumber daya alam. Sengketa Laut China Selatan menjadi penyebab kekhawatiran di antara negara-negara yang berbatasan dengan China. Beijing mengklaim sebagian besar yurisdiksi maritimnya di perairan itu.

Kyodo News melaporkan, Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) mulai menyediakan peralatan penyelamat jiwa untuk Angkatan Bersenjata Filipina (PAF). Ini adalah pertama kalinya Jepang menawarkan peralatan SDF kepada angkatan bersenjata asing, di bawah bantuan pembangunan resminya. Langkah itu dilakukan di tengah ketegangan hubungan antara Filipina dan China di Laut Cina Selatan.

Jepang akan mengirimkan alat bantuan bencana, termasuk jackhammers, sonar, dan pemotong mesin ke PAF. Personel SDF juga akan melatih unit PAF untuk menggunakan peralatan tersebut.

"Kami berharap pemberian bantuan tersebut akan memperdalam hubungan bilateral dengan mitra regional yang secara strategis penting," kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang yang tidak disebutkan namanya.

Selain menyoroti situasi di Laut China Selatan, Motegi juga menyinggung tindakan Beijing terhadap Muslim Uighur di Xinjiang. Motegi mengatakan, Jepang prihatin dengan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh Beijing terhadap Muslim Uyghur di provinsi Xinjiang barat laut serta situasi di Hong Kong.

Kelompok G-7, yang meliputi Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan AS, serta UE, juga membahas situasi di Myanmar. Demonstrasi anti-kudeta merebak di Myanmar setelah militer mengambilalih pemerintahan sipil pada 1 Februari.

Desktop internasional detail text

Edit
IDR 0
desktop_internasional_detail_text

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

Desktop internasional detail berita terkait

Edit
IDR 0
desktop_internasional_detail_berita_terkait
 

BERITA LAINNYA

 

Desktop internasional detail right 1

Edit
IDR 3.500.000
desktop_internasional_detail_right_1
 
 

Desktop internasional detail right 2

Edit
IDR 3.000.000
desktop_internasional_detail_right_2
 

Desktop internasional detail right 3

Edit
IDR 2.500.000
desktop_internasional_detail_right_3
 

Desktop internasional detail right 3

Edit
IDR 2.500.000
desktop_internasional_detail_right_3

Desktop internasional detail right 4

Edit
IDR 2.000.000
desktop_internasional_detail_right_4

Desktop internasional detail bottom Frame

Edit
IDR 4.500.000
desktop_internasional_detail_bottom_Frame