Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Kebencian Yahudi atau Anti-Semit Justru Muncul di Barat

Sabtu 22 May 2021 05:45 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Anti-Semit justru berawal dari gerakan-gerakan di negara Barat. Zionisme (ilustrasi).

Anti-Semit justru berawal dari gerakan-gerakan di negara Barat. Zionisme (ilustrasi).

Foto: Panoramio.com
Anti-Semit justru berawal dari gerakan-gerakan di negara Barat.

REPUBLIKA.CO.ID,  

Oleh Ardiansyah Ashri Husein* 

Sebenarnya, apa akar konflik Palestina dan Israel? Sebagian orang menyebut perebutan wilayah dan kawasan hunian. Sebagian mengatakan karena keyakinan Yahudi atas keberadaan Kuil Sulaiman yang mereka klaim ada di bawah bangunan Masjid al-Aqsha. 

Ada pula yang mengatakan konflik bermula karena kebencian orang Arab terhadap entitas Yahudi di Palestina, dan lain sebagainya. Namun, tahukah kita, permasalahan paling utama yang menjadi akar konflik Palestina vs Israel adalah karena Zionis Israel telah menjajah dan merampas bumi Palestina, kota suci umat Islam, serta mengusir dan membantai penduduknya. 

Permasalahan ini tidak akan pernah selesai selama penjajahan itu dibiarkan dan dibenarkan. Apalagi, jika ada pihak yang berupaya memberikan legalitas dan pengakuan terhadap eksistensi Israel di tanah yang bukan menjadi hak mereka. 

Pemberian negara kepada Zionis Israel (solusi dua negara) sebagai solusi dan upaya perdamaian yang ditawarkan PBB tidak bisa diterima dan tidak masuk akal karena tanah Palestina adalah milik umat Islam sepenuhnya. 

Tanah itu bukan milik mereka dan bukan milik Israel yang dapat diserahterimakan begitu saja. Apalagi, dengan dalih perdamaian. Perdamaian yang bagaimana dan atas dasar apa? Sampai sekarang Israel bahkan mengesampingkan segala hak warga Palestina. 

Solusi dua negara berat sebelah dan tak berkeadilan. Israel pada hari ini bahkan sudah menempati sebagian besar tanah Palestina dan mendirikan puluhan ribu perumahan ilegal di atas tanah milik rakyat Palestina. Mereka melanggar peraturan yang telah disepakati dalam perjanjian damai.  

Menurut Pusat Penelitian dan Konsultasi al-Zaytouna sampai awal 2017 saja, ada 8,49 juta jiwa dari 12,7 juta penduduk Palestina berstatus pengungsi, yaitu sekitar 70 persen lebih. Artinya, separuh lebih rakyat Palestina terusir dari tanah air mereka dan menjadi pengungsi di negara tetangga.  

Mereka tinggal di barak pengungsian dan tak mendapatkan hak sebagai bangsa yang merdeka. Hak untuk kembali ditolak Israel. Warga yang masih bertahan di Palestina, juga mengalami penderitaan yang tak kalah hebatnya. Kota Gaza sudah 12 tahun diblokade, baik lewat darat, laut, maupun udara. Mereka tak bisa menjalankan kehidupan sebagaimana mestinya. 

 

sumber : Harian Republika
Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA