Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Pengalaman Shalat di Masjid 'Berbeda'

Senin 07 Jun 2021 11:50 WIB

Rep: Supadilah Padil/ Red: Retizen

Pengalaman Shalat di Masjid 'Berbeda'

Pengalaman Shalat di Masjid 'Berbeda'

Pengalaman Shalat di Masjid 'Berbeda'

Sumber gambar: aset Canva

Mudik kemarin saya pernah salat di masjid organisasi masyarakat yang sering dicap 'aneh' atau berbeda. Kenapa saya bisa mampir ke masjid itu? Saya berangkat ke masjid bersama anak bungsu saya untuk menunaikan shalat Maghrib. Di jalan saya lihat ada masjid yang ada bakar-bakaran. Bukan bakar masjid lho ya. Kebetulan anak saya suka main bakar-bakaran. Saya tawarkan ke dia, mau ke masjid itu nggak? Dijawab mau.

Biasanya kami ke masjid Muhammadiyah. Lha kali ini, saya ke masjid ini tadi. Masjid ini berada di lingkungan masyarakat LDII atau lembaga dakwah Islam Indonesia. Nah, LDII ini seringkali dianggap berbeda. Dengan berbagai macam anggapan. Kebanyakan negatif sih. Biasanya kalau berbeda kan dianggap negatif. Tapi malam itu, saya tidak mendapatinya. Ya, saya tidak menemukan hal berbeda di masjid ini, yang perlu dianggap aneh. Kecuali beberapa hal ini.

Pertama, jamaahnya datang telat. Di saat masjid lain sudah iqomah, masjid ini belum banyak datang jamaahnya. Baru dua jamaah orang dewasa. Saya dan seorang Mbah. Tak berapa lama, datang satu bapak-bapak. Saya kira karena datang terlambat, maka akan langsung iqomah, tak shalat Sunnah dulu. Eh, ternyata beliau shalat Sunnah dulu.

Begitu juga jamaah keempat, kelima, dan seterusnya. Ya, jamaah yang datang masih menyempatkan shalat Sunnah dulu. Kedua, jamaah shalat Maghrib itu sangat banyak, untuk ukuran masjid di kampung. Saat itu sampai 3 shaf shalat. Baik orang dewasa maupun anak-anak. Padahal, ukuran masjidnya besar. Kontras sekali dengan pemandangan di awal tadi. Saya kira masjid ini akan sepi. Lha wong sudah masuk waktunya shalat, baru ada beberapa gelintir. Lebih banyak jumlah tiang masjid dibanding jamaah. Eh tapi selesai shalat, saya lihat jamaahnya banyak.

Saya juga sempat mengobrol dengan salah seorang jamaah yang kebetulan tetangga walaupun agak jauh. Itulah fungsi shalat jamaah, sebagai sarana bersilaturahmi. Saling mengenal dan mengobrol. Jadi tidak hanya bernilai akhirat saja tapi juga bernilai dunia. Di masjid itulah saya tak menemukan apa yang selama ini dituduhkan oleh orang-orang. Di masjid LDII itulah saya belajar toleransi. Organisasi agama boleh berbeda, tapi akidah dan ibadah kita masih sama, maka ayo eratkan persatuan. Jaga kerukunan sesama ummat.

Begitu juga dengan mengamalkan Pancasila terutama sila pertama. Bahwa, meskipun agama kita berbeda, kita harus menjaga kerukunan berbangsa. Di Indonesia banyak agama. Kalau tidak bersatu, kita dalam bahaya. Pancasila-lah sebagai perekatnya. Mari kita bersatu untuk Indonesia maju.

Bangsa kita dilanda banyak masalah. Kalau tidak bersatu, jangankan menyelesaikan masalah, yang ada justru menambah masalah. Yang penting tujuan kita sama. Bersatu saja belum tentu bisa menyelesaikan masalah, apatah lagi jika kita saling bermusuhan. Maka, ayo kita bersatu, saling menghargai dan menghormati.

sumber : https://retizen.id/posts/11564/pengalaman-shalat-di-masjid-berbeda
Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA