Saturday, 16 Jumadil Awwal 1444 / 10 December 2022

Saturday, 16 Jumadil Awwal 1444 / 10 December 2022

16 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

China: Skema Pembangunan Infrastruktur G7 Ketinggalan Zaman

Ahad 13 Jun 2021 08:28 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Bendera China.

Bendera China.

Foto: ABC News
G7 menginisiasi sebuah rencana infrastruktur yang dapat menyaingi China

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- China pada Ahad (13/6) mengkritik skema pembangunan infrastruktur yang diinisiasi oleh negara-negara kelompok G7. China memperingatkan bahwa, sekelompok negara yang memutuskan nasib dunia adalah praktik pada masa lalu.

"Hari-hari ketika keputusan global didikte oleh sekelompok kecil negara sudah lama berlalu," kata juru bicara kedutaan besar China di London.

Baca Juga

"Kami selalu percaya bahwa negara, besar atau kecil, kuat atau lemah, miskin atau kaya, adalah sama, dan bahwa urusan dunia harus ditangani melalui konsultasi oleh semua negara," ujar juru bicara itu.

Negara-negara kaya yang tergabung dalam kelompok G7 pada Sabtu (12/6) menginisiasi sebuah rencana infrastruktur yang dapat menyaingi skema Belt and Road Initiative (BRI), yang diusung oleh Presiden China Xi Jinping. Negara kelompok G7 sepakat untuk mengusung inisiatif Build Back Better World (B3W), sebagai langkah untuk menghadapi kebangkitan ekonomi dan militer China selama 40 tahun terakhir.

Skema B3W akan memberikan kemitraan infrastruktur yang transparan senilai 40 triliun dolar AS pada 2035. Gedung Putih mengatakan, G7 dan sekutunya akan menggunakan inisiatif B3W untuk memobilisasi modal sektor swasta di berbagai bidang seperti iklim, kesehatan dan keamanan kesehatan, teknologi digital, serta kesetaraan dan kesetaraan gender.

"Ini bukan hanya tentang menghadapi atau menghadapi China," kata seorang pejabat senior dalam pemerintahan Biden.  

"Tapi sampai sekarang kami belum menawarkan alternatif positif yang mencerminkan nilai-nilai kami, standar kami dan cara kami melakukan bisnis," ujar pejabat tersebut menambahkan.

Amerika Serikat (AS) mengatakan ada konsensus G7 mengenai perlunya pendekatan bersama ke China, terkait perdagangan dan hak asasi manusia. Para pemimpin G7 yang terdiri dari AS Kanada, Inggris, Jerman, Italia, Prancis, dan Jepang ingin menunjukkan kepada dunia bahwa, negara-negara demokrasi terkaya dapat menawarkan alternatif bagi pengaruh China yang semakin besar.

Kebangkitan China sebagai kekuatan global terkemuka dianggap sebagai salah satu peristiwa geopolitik paling signifikan. Pada 1979, China memiliki ekonomi yang lebih kecil dari Italia. China bangkit menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia dan pemimpin global dalam teknologi baru, setelah membuka investasi asing dan memperkenalkan reformasi pasar.

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile