Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Epidemiologi: Pada Akhirnya RS akan Kembali Penuh

Senin 14 Jun 2021 16:07 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Agus Yulianto

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (ketiga kanan) berdialog dengan Plt Direktur Pelayanan Medik Keperawatan dan Penunjang Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin (RSHS) Dr.Yana Muhammad Supriatna (ketiga kiri) saat peninjauan terkait Covid-19 di RSHS, Bandung, Jawa Barat. Ridwan Kamil menyatakan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di seluruh Jawa Barat masih dalam tahap terkendali meski mengalami peningkatan mencapai 68 persen dampak arus mudik dan libur Lebaran.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (ketiga kanan) berdialog dengan Plt Direktur Pelayanan Medik Keperawatan dan Penunjang Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin (RSHS) Dr.Yana Muhammad Supriatna (ketiga kiri) saat peninjauan terkait Covid-19 di RSHS, Bandung, Jawa Barat. Ridwan Kamil menyatakan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di seluruh Jawa Barat masih dalam tahap terkendali meski mengalami peningkatan mencapai 68 persen dampak arus mudik dan libur Lebaran.

Foto: Antara/Novrian Arbi
Pemerintah harus serius dan cepat lakukan kebijakan pembatasan kegiatan dan 3T.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengatakan, pada akhirnya keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit di Indonesia akan kembali penuh. Bahkan, berpotensi terjadi chaos saat puncak dipengaruhi varian baru Covid-19, yaitu B1617.2 atau varian delta asal India.

"Meningkatkanya pasien Covid-19 setiap harinya karena akumulasi kegagalan setahun lebih oleh Pemerintah Indonesia dalam mengendalikan Covid-19. Ya, pada akhirnya rumah sakit akan penuh kembali, apalagi ada varian baru," katanya saat dihubungi Republika.co.id, Senin (14/6).

Dikatakannya, Pemerintah Indonesia setiap hari harus melakukan 3T terhadap masyarakatnya. Ini harus dilakukan agar bisa mengantisipasi penyebaran virus Covid-19 dan jangan mengandalkan vaksin saja, karena virus ini sangat cepat menyebar.

"Bisa juga dengan strategi lockdown kembali. Ini hal yang serius ya. Di Amerika saja setiap hari mereka melakukan tracing kepada masyarakatnya dan terapkan perbatasan kegiatan," kata dia.

Dia ingin pemerintah cepat untuk membuat rencana pencegahan virus ini. Kalau tidak, nantinya akan kembali seperti pada masa awal pandemi lagi. "Pemerintah harus serius dan cepat lakukan kebijakan, seperti pembatasan kegiatan dan 3T," kata dia.

Sebelumnya diketahui, meningkatnya kasus Covid-19 pascalibur Lebaran membuat tingkat keterisian tempat tidur (BOR) di rumah sakit juga mengalami peningkatan. Tercatat ada tujuh provinsi yang tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit berada di atas 50 persen.

"Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, sebanyak tujuh provinsi mengalami BOR di atas 50 persen hingga per 12 Juni 2021," kata Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Lia G Partakusuma saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (13/6).

Lia memerinci, ketujuh provinsi tersebut, yaitu pertama DKI Jakarta 68,2 persen, kedua Jawa Tengah (Jateng) 68 persen, ketiga adalah Jawa Barat (Jabar) 65,6 persen. Keempat, dia melanjutkan, adalah Kalimantan Barat yaitu 63,4 persen, kemudian peringkat selanjutnya adalah Yogyakarta 58,2 persen, urutan keenam adalah Banten sebanyak 58,5 persen, dan terakhir adalah Sumatra Barat (Sumbar) sebanyak 52,6 persen.

"Kemudian, rata-rata angka BOR nasional 49,64 persen," ujarnya.

Sementara itu, Persi juga mencatat delapan provinsi mengalami kasus baru terbanyak, yaitu Jakarta, Jateng, Jabar, Yogyakarta, Jawa Timur (Jatim), Riau, Sumbar, dan Kepulauan Riau.  

"Kemudian, delapan provinsi yang harus waspada karena peningkatan kasus aktif, yaitu Sumatra Utara (Sumut), Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, Sulawesi Selatan, Aceh, dan Sumbar," ujarnya. 

 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA