Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Pembunuhan dan Shalat

Kamis 01 Jul 2021 16:40 WIB

Rep: Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja/ Red: Retizen

Sholat

Sholat

Bagaimana hukum pembunuhan dalam Islam?

Pembahasan antara shalat dan membunuh adalah merupakan pembahasan yang sangat bertolak belakang, bahkan tidak ada titik temu antara kedua perbuatan tersebut. Ketika kita membahas mengenai shalat, yang pasti terpikir dalam benak dan pikiran setiap orang adalah islam, ibadah, wajib adapun orang yang rajin melakukannya dan selalu istiqomah dalam melakukannya disebut sebagai orang yang ‘alim dan dianggap sebagai ahli ibadah. Sebagaimana yang terkandung dalam al-Qur’an:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'.” (QS. Al-Baqarah: 43)

Dalam islam ada beberapa hukum dalam shalat, yang pertama adalah shalat sebagai kewajiban dan yang kedua adalah shalat sebagai suatu ibadah sunnah. Shalat yang kita kerjakan selama 5 waktu setiap hari selama ini adalah merupakan shalat wajib, namun shalat yang kita kerjakan sebelum dan sesudah sholat wajib adalah merupakan sholat sunnah, sebagaimana yang dijelaskan Nabi Muhammad dalam Hadistnya:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ .. رواه البخاري

“Dari Ibnu Abbas r.a. bahwasannya Nabi saw. telah mengutus Muadz r.a. ke Yaman, lalu beliau bersabda kepadanya “Ajaklah mereka (penduduk Yaman) untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sungguh aku adalah utusan Allah, jika mereka menaatinya, maka beritahukan mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat dalam sehari semalam .” (HR. Al-Bukhari)

Sebaliknya, apabila kita membahas tentang pembunuhan, yang terpikirkan dalam benak setiap insan adalah keji, tidak berkeprimanusiaan adapun orang yang melakukannya akan dilihat sebagai orang yang paling sadis sedunia dan bahkan ia akan dikucilkan secara sosialnya, hal ini merupakan bukti akan tidak adanya titik temu antara pembahasan tentang pembunuhan dan shalat. Sebagaimana yang terkandung dalam al-Qur’an:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’: 92)

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisaa’: 93)

Dalam ayat diatas jelaslah bahwasanya membunuh adalah hal yang sangat dilarang dalam islam, bahkan didalam islam hukuman bagi seseorang yang membunuh tidak tanggung-tanggung, hukumannya adalah neraka jahannam yang mana neraka jahannam merupakan neraka yang paling bawah.

Saya tertarik menulis tentang pembunuhan dan shalat adalah karena saya teringat akan cerita yang diceritakan istri saya ketika ia masih mengemban pendidikan SMA di Pondok Pesantren, ia bercerita yang mana kala itu Ustadzah yang sedang mengajar Fiqih di kelasnya bertanya kepada seluruh murid di dalam kelas, “Apabila kalian disuruh memilih antara membunuh dan meninggalkan shalat 5 waktu, mana yang akan kalian pilih?”, dan ketika itu seluruh murid pun termasuk istri saya terlihat kebingungan, karena hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dipilih, yang mana membunuh adalah sesuatu yang sangat tidak dianjurkan bahkan dilarang untuk dilakukan dalam islam dan shalat 5 waktu merupakan sesuatu perkara wajib yang mana apabila ditinggalkan akan mendapatkan dosa. Dua hal tersebut lah yang membuat para santri kebingungan antara pilihan yang diberikan kepada Ustadzah kepada para santri di kelas, namun kemudian sang Ustadzah pun memecahkan keheningan dengan penjelasan yang beliau berikan, “kalau saya, saya akan lebih memilih untuk meninggalkan shalat 5 waktu!”, para santripun kebingungan dibuatnya karena jawaban yang keluar dari mulut Ustadzah, kemudian Ustadzah melanjutkan penjelasannya “saya memilih untuk tidak membunuh adalah karena apabila kita membunuh maka itu akan membuat masalah dengan manusia sedangkan apabila kita memilih untuk meninggalkan shalat 5 waktu, itu artinya kita membuat masalah dengan Allah. Permasalahannya adalah apabila kita membuat masalah dengan Allah, maka kita bisa bertaubat dan Allah insyaallah akan memaafkan kesalahan kita, karena Allah Maha Pengampun. Sedangkan apabila kita membunuh, maka itu akan membuat masalah dengan manusia yang mana apabila kita membuat masalah dengan manusia maka masalah itu tidak akan selesai dengan hanya meminta maaf, karena hal tersebut bisa membuat sakit di hati keluarga dan orang sekitarnya. Hal tersebutlah yang membuat saya memilih untuk meninggalkan shalat dibandingkan dengan membunuh karena hal tersebut dapat menghalangi kita masuk surga, karena apabila kita pernah menyakiti hati sesorang dan orang tersebut belum memaafkan kita dan masih menyimpan rasa sakit hatinya maka kelak nanti di yaumul hisab Allah akan menahan kita memasuki surga karena hal tersebut dan kita harus mencari orang yang masih menyimpan rasa sakit hatinya kepada kita, apakah kalian bisa membayangkan bagaimana kita bisa mencari seseorang yang masih menyimpan rasa sakit hati kepada kita di padang masyhar yang sangat luas dan dihadiri dengan berjuta-juta bahkan bertriliyunan orang hanya untuk meminta maaf atas kesalahan kita yang dulu pernah menyakiti hatinya. Hal inilah mengapa saya lebih memilih untuk meninggalkan shalat 5 waktu dibandingkan dengan membunuh.”

Wallahu a'lam bi ash-shawab.

sumber : https://retizen.id/posts/11940/pembunuhan-dan-shalat
Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA