REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov mengatakan negaranya mendukung upaya diplomatik ASEAN untuk mengakhiri krisis Myanmar. Dia menyebut Rusia juga telah menyampaikan hal tersebut ke para pemimpin militer Negeri Seribu Pagoda.
"Dalam kontak kami dengan para pemimpin Myanmar, para pemimpin militer, kami mempromosikan posisi ASEANyang menurut pandangan kami harus dipertimbangkan sebagai dasar untuk menyelesaikan krisis ini dan membawa situasi kembali normal," kata Lavrov seusai melangsungkan pertemuan dengan Menlu Retno Marsudi di Jakarta, Selasa (6/7).
Retno mengungkapkan Lavrov akan mengadakan pembicaraan virtual dengan para menlu ASEAN. Komentar Lavrov muncul saat keterlibatan Rusia dengan militer Myanmar semakin dalam.
Pada 20 Juni lalu, pemimpin junta Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing menghadiri konferensi keamanan di Moskow. Itu merupakan perjalanan luar negeri keduanya setelah merebut pemerintahan sipil yang dipimpin Aung San Suu Kyi. Min Aung Hlaing juga sempat menghadiri KTT ASEAN di Jakarta, April lalu.
Selain Rusia, Retno Marsudi mendorong China berperan dalam penyelesaian krisis di Myanmar. Dalam hal ini, Retno menekankan pentingnya pemulihan demokrasi di negara tersebut dijadikan sebagai prioritas.
“Yang pertama mengenai masalah Myanmar, saya sampaikan kembali bahwa keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Myanmar serta pemulihan demokrasi harus menjadi prioritas kita,” kata Retno dalam pengarahan pers seusai berpartisipasi dalam pertemuan khusus para menlu ASEAN dengan Menlu China Wang Yi yang digelar secara fisik di Chongqing, 7 Juni lalu.