Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Fikih Hadapi Covid-19, Tempuh Perintah atau Dispensasi?

Selasa 13 Jul 2021 22:12 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Pengendara sepeda motor keluar dari area Taman Ahmad Yani yang ditutup selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (13/7/2021). Pemerintah Kota Medan menutup seluruh taman kota atau Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada di Medan demi mencegah kerumunan dan meredam penyebaran COVID-19 selama PPKM darurat.

Pengendara sepeda motor keluar dari area Taman Ahmad Yani yang ditutup selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (13/7/2021). Pemerintah Kota Medan menutup seluruh taman kota atau Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada di Medan demi mencegah kerumunan dan meredam penyebaran COVID-19 selama PPKM darurat.

Foto: ANTARA/Fransisco Carolio
Pandemi Covid-19 membuka pintu lebar dispensasi (rukhshah)

Oleh : KH Ade Muzaini Aziz, Lc, MA, pengurus Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Kota Tangerang

REPUBLIKA.CO.ID, — Sudah setahun lebih Covid-19 menyerang Indonesia, lalu menjadi pandemi, kemudian mengganas akhir-akhir ini. Dulu kita mengenal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sekarang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang tengah diberlakukan. 

Sungguh banyak hal berubah, di setiap dimensi kehidupan. Tidak terkecuali kehidupan keberagamaan dan peribadatan, termasuk di kalangan kaum Muslimin.  

Beberapa hipotesis, bahkan merupakan fakta sains dunia medis, yang mendasari perubahan pola keberagamaan dan peribadatan tersebut, antara lain bahwa kerumunan dapat mengakibatkan penularan, baik melalui droplet (percikan air), airborne (udara), maupun sentuhan dengan permukaan yang terkontaminasi. 

Baca Juga

Selain itu adanya orang tanpa gejala (OTG), di mana ia positif terpapar Covid-19, namun di satu sisi bisa jadi ia tidak menyadarinya, dan di sisi lain ia berpotensi menularkan ke orang lain.

Kemudian, hal tersebut melahirkan beberapa perubahan perilaku keberagamaan dan peribadatan, yang dinarasikan melalui anjuran, kebijakan, aturan, bahkan fatwa, antara lain sholat dengan menjaga jarak antarjamaah, sholat dengan memakai masker, larangan bersalam-salaman, khutbah  dan sholat yang dipersingkat (Jumat, Idul Fitri, Idul Adha, dan lain-lain), larangan kegiatan ibadah secara berkerumun (berjamaah) di masjid, mushalla, juga tempat terbuka (lapangan, misalnya), penutupan majelis taklim dan kegiatan-kegiatannya, penangguhan keberangkatan haji dan umrah, dan lain sebagainya.

Pro-kontra muncul, dengan argumennya masing-masing. Wajar. Tidak seperti fiqh thahârah (bersuci), fikih sholat, fikih puasa, dan varian fikih lainnya, ini tak lain karena fikih pandemi bukan barang konsumsi sehari-hari. Ia adalah varian fikih yang sangat jarang diulas dan diajarkan, sebagaimana jarangnya pandemi itu sendiri terjadi.

Beda 'azimah dan rukhshah 

Dalam fikih, dikenal dua jenis hukum, yaitu ‘azimah (عزيمة) dan rukhshah (رخصة). Sederhananya, azimah adalah hukum umum yang disyariatkan secara mendasar untuk menjadi aturan umum bagi setiap mukallaf (pihak yang dibebani hukum syariat) di semua kondisi.

Adapun rukhshah adalah hukum yang disyariatkan akibat adanya ‘udzur  (alasan hukum yang meringankan, seperti masyaqqah/beban berat dan hâjah/keperluan mendesak) yang dihadapi mukallaf (Muslim wajib hukum). 

'Azimah dibagi menjadi lima kategori yaitu (1) wâjib (diwajibkan), (2) mandûb (dianjurkan), (3) mubâh (dibolehkan), (4) makrûh (tidak disukai), dan (5) harâm (tidak boleh).

Sementara rukhshah dibagi menjadi empat jenis hukum: (1) wâjib (diwajibkan); (2) mandûb (dianjurkan), (3)  mubâh (dibolehkan), (4) khilâful awlâ (menyelisihi yang ideal). 

Sekadar contoh, sholat Zhuhur empat rakaat adalah azimah kategori wâjib. Namun, saat seseorang dalam perjalanan dengan waktu tempuh minimal tiga hari, maka ia boleh meng-qashr (memangkas) sholat Zhuhurnya menjadi dua rakaat saja, sebagai bentuk rukhshah kategori mandûb.    

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA