Kisah Corona Di Norwegia: Apa Kabar Indonesia?

Sabtu , 17 Jul 2021, 10:36 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Foto :

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Savitri Icha Khairunnisa, Warga Indonesia Tinggal di Norwegia

 

Terkait

Sudah seminggu saya dapat vaksinasi dosis pertama. Alhamdulillah sejauh ini baik-baik saja. Satu-satunya keluhan hanya rasa pegal dan sedikit nyeri ("kemeng" dalam bahasa Jawa) selama dua hari. Setelah itu ya biasa aja. Nggak ada demam, pusing, ngantuk, atau lapar. Kalau yang terakhir ini tanpa vaksin pun saya memang lapar aja bawaannya šŸ˜ƒ.

Saya dapat vaksin apa? Untuk saat ini vaksin yang tersedia di Norwegia hanya vaksin Comirnaty dari Pfizer/BioNTech. 

Apakah kami lebih beruntung karena dapat vaksin yang lebih tinggi tingkat efikasinya?

Well, buat saya, beruntung itu adalah ketika kita ingin divaksin, vaksinnya ada saat ini, kita bisa divaksin, dan tentunya gratis.

Saya percaya semua vaksin yang beredar di seluruh dunia sudah terbukti efikasinya. Dengan perkecualian VakNus yang kontroversial itu. Soal tinggi atau rendah, toh vaksin apapun menawarkan dosis kedua untuk booster.

Proses vaksin di hari H berjalan efisien dan efektif. Kita harus mendaftar secara online terlebih dulu. Saat pendaftaran, kita harus melengkapi informasi seputar kesehatan diri sendiri, khususnya usia, alergi dan penyakit bawaan. Mereka yang punya penyakit bawaan akan masuk daftar prioritas. Ini seperti Pak Faisal yang punya asma dan sudah dapat dua dosis vaksin. Ketika vaksin tersedia, maka kita akan dapat panggilan via SMS.

Aturan vaksin Covid-19 di Norwegia, kita hanya boleh masuk gedung vaksin paling awal 5 menit sebelum jadwal. Kalau kita datang terlalu awal, maka dipersilakan menunggu di luar gedung / di mobil.

Karena alokasi waktu yang efisien itu, maka saya hanya sempat duduk 5 menit sebelum nomor antrean saya dipanggil. 

Vaksin dilaksanakan di ruang tertutup. Untung saya dapat juru vaksin perempuan. Jadi tak masalah ketika harus menyingsingkan lengan kiri.

Selesai vaksin yang cuma sak jrut, saya diminta duduk di ruang tunggu selama 20 menit. Bila tidak ada keluhan apa-apa, bisa langsung pulang tanpa pamit lagi.

Oya, program vaksinasi di Norwegia banyak menyertakan para sukarelawan dari Palang Merah Norwegia.

Sebagai orang yang meyakini bahwa Covid-19 ini nyata, saya dan suami sejak awal semangat untuk ikut vaksin ketika kami dapat giliran. 

Untuk saat ini, di tengah pandemi yang belum jelas kapan selesainya, korban yang semakin banyak berjatuhan, kondisi begitu banyak negara morat-marit, bahkan beberapa kepala negara besar / maju sampai harus berjiwa besar meminta maaf kepada rakyat atas kegagalan mereka dalam mengatasi pandemi, maka vaksin adalah secercah cahaya untuk keluar dari lorong gelap ini.

Vaksin adalah ikhtiar tiap individu dewasa di manapun, untuk melindungi dirinya sendiri, dan orang-orang di sekitarnya. 

Untuk negara sekecil Norwegia yang penduduknya hanya 5,4 juta jiwa, proses vaksinasi berjalan sangat lambat. Sejak awal diluncurkan akhir Desember 2020, orang dalam kelompok usia saya (39-44 thn dan tanpa komorbid) baru mendapat giliran pekan lalu.

Memang ada kesepakatan di antara negara-negara Uni Eropa dan EEC, bahwa vaksin yang (ketika itu) masih terbatas, harus dibagi secara proporsional sesuai jumlah penduduk dan kondisi pandemi di negara tersebut.

Norwegia yang berpenduduk sedikit dan kondisi pandeminya teratasi dengan cukup baik, ya dapat jatah yang sedikit juga. Sempat cukup banyak yang mengeluhkan hal ini, meski akhirnya bisa maklum semua. Orang Norwegia ini aslinya memang nerimoan. Lebih nerimo daripada orang Jawa.

Anyway, biar lambat asal selamat. Alhamdulillah akhirnya dapat jatah vaksin juga. Per hari ini, cakupan vaksin di Norwegia untuk dosis pertama sudah 74,2%. Sudah hampir mumpuni untuk mencapai herd immunity.

Demikian pula kondisi mayoritas negara-negara Eropa dan negara maju lainnya.

 

 

 

#Covid19 

#Norway 

#CeritaCoronaDiNorwegia