Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Banyak Warga Isoman di DKI Meninggal, Ini Penjelasan Anies

Ahad 25 Jul 2021 16:51 WIB

Rep: Flori Sidebang / Red: Ratna Puspita

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menanggapi data perihal banyaknya pasien Covid-19 di Ibu Kota yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri. Anies mengatakan, salah satu penyebabnya adalah kondisi rumah sakit yang telah penuh. (Foto: Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan)

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menanggapi data perihal banyaknya pasien Covid-19 di Ibu Kota yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri. Anies mengatakan, salah satu penyebabnya adalah kondisi rumah sakit yang telah penuh. (Foto: Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan)

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Anies mengatakan DKI satu-satunya provinsi dengan data dan status isolasi mandiri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menanggapi data perihal banyaknya pasien Covid-19 di Ibu Kota yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri. Anies mengatakan, salah satu penyebabnya adalah kondisi rumah sakit yang telah penuh.

Ia mengatakan, rumah sakit rujukan Covid-19 di Jakarta telah melampaui kapasitas pada Juni hingga Juli 2021. Ia mengatakan, kondisi ini mengakibatkan tidak semua warga yang terpapar virus corona mendapatkan perawatan di rumah sakit, termasuk mereka yang menjalani isolasi mandiri.

“Jadi banyak dari warga yang seharusnya mendapatkan pelayanan di rumah sakit, tidak bisa masuk rumah sakit. Karena tempatnya memang terbatas. Nah, itulah yang kemudian salah satu sebab kontribusi terhadap kasus mereka-mereka yang isolasi tidak bisa terselamatkan. Karena mereka seharusnya berada di rumah sakit,” kata Anies dalam acara Vaksinasi Kadin Indonesia Bersama TNI-Polri yang disiarkan secara virtual, Ahad (25/7).

Baca Juga

Anies mencontohkan, apabila terdapat kasus positif Covid-19 yang menyentuh angka 100 persen maka sekitar 4-5 persen dari jumlah itu memiliki gejala berat dan membutuhkan perawatan di ICU. Dia menyebut, DKI Jakarta pernah menembus angka 100 ribu kasus Covid-19 sehingga kurang lebih ada 4 ribu sampai 5 ribu orang yang memerlukan perawatan di ICU.

Namun, menurutnya, angka itu tidak sebanding dengan ketersediaan tempat tidur ICU di Jakarta yang hanya berkisar 1.500 unit dan menimbulkan kesenjangan. “Dari situ sudah terlihat bahwa ada gap. Jadi ini berbeda dengan isolasi mandiri yang gejala ringan, sedang. Ini adalah mereka-mereka yang seharusnya masuk dapat perawatan, tapi tempat kita kemarin tidak cukup,” jelas dia.

Anies pun mengeklaim, Pemprov DKI tidak pernah menutupi data mengenai jumlah pasien yang menjalani isolasi mandiri. Ia menuturkan, pihaknya selalu menyampaikan jika ada pasien isolasi mandiri yang meninggal maupun selamat.

“Tentang isolasi mandiri ini saya rasa perlu digarisbawahi, kami di Jakarta tidak pernah menutupi data, tidak pernah mengurangi, tidak pernah menambahi. Bila ada yang meninggal, kita laporkan, bila selamat, kita laporkan. Tidak pernah ditutup-tutupi,” ungkap Anies.

Ia juga mengatakan, DKI Jakarta merupakan satu-satunya provinsi yang memiliki data dan status mengenai isolasi mandiri. Sebab, Anies telah meminta kepada seluruh jajarannya mendata warga yang positif terpapar virus corona dan sedang menjalani isolasi mandiri di rumah.

“Karena itu, Jakarta mungkin satu-satunya yang punya data tentang isolasi mandiri dan statusnya seperti apa. Mengapa kita punya? Ini hasil rapat-rapat kita bahwa tim lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas itu harus tahu siapa positif, siapa isolasi mandiri di setiap wilayahnya,” tutur dia.

Pada kesempatan berbeda, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria meminta kepada satgas di masing-masing RT dan RW untuk dapat menjalin komunikasi yang baik dengan pasien isolasi mandiri. Selain itu, Ariza juga mengimbau keluarga pasien isolasi mandiri untuk melakukan hal serupa.

“Kami minta bagi yang isolasi mandiri untu keluarga beri perhatian, komunikasi tidak hanya kepada pasien isolasi mandiri saja, tapi juga koordinasi dengan RT/RW setempat, satgas setempat. Komunikasi lewat WA (WhatsApp) grup di RT masing-masing,” ujar Ariza di Meruya Selatan, Jakarta Barat, Ahad (25/7).

Sebelumnya, kanal laporan warga yang diunggah melalui laman LaporCovid-19.org menyebutkan statistik data warga yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri. Dari laporan tersebut disebutkan bahwa jumlah kematian saat isolasi mandiri dan di luar rumah sakit di Jakarta mencapai 1.215 orang.

Rinciannya yakni di Jakarta Timur mencapai 403 kematian, Jakarta Selatan (289), Jakarta Utara (205), Jakarta Pusat (162) dan Jakarta Barat sebanyak 156 kematian saat isolasi mandiri. Data tersebut didapatkan dari gabungan data Lapor Covid-19 dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang dicatat mulai 8 Juni 2021. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA