Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Erick Thohir: Obat Terapi Covid-19 Siap Hingga September

Senin 26 Jul 2021 12:42 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Fuji Pratiwi

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Erick menyatakan, pemerintah menyiapkan obat dan vitamin bagi pasien Covid-19 hingga September 2021.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Erick menyatakan, pemerintah menyiapkan obat dan vitamin bagi pasien Covid-19 hingga September 2021.

Foto: Republika/Abdan Syakura
Produksi obat dan vitamin akan terus ditingkatkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyampaikan, pemerintah telah menyiapkan pasokan obat-obatan yang dibutuhkan untuk terapi pasien Covid-19 hingga September nanti. Obat-obatan ini akan difokuskan kepada apotek-apotek yang dikelola BUMN, Kementerian Kesehatan, pemenuhan kebutuhan rumah-rumah sakit BUMN, serta pasokan dua juta paket obat untuk pasien isolasi mandiri.

"Tentu ini di luar yang apotek dan rumah sakit swasta," kata Erick usai rapat terbatas di Istana, di Jakarta, Senin (26/7).

Ia mendetilkan, obat-obatan yang telah disiapkan hingga 31 Juli nanti yakni Azitromisin sebanyak 980 ribu, Zinc sebanyak 1,2 juta, Paracetamol 2,3 juta, Vitamin C 7,6 juta, Vitamin D 1,6 juta, Oseltamivir 7,7 juta, Favipiravir 4 juta, dan Avicov 1,5 juta.

"Total Agustus juga terus kita lanjutkan. Jadi secara produksi kita akan terus tingkatkan," kata Erick.

Hingga September nanti, total produksi Azitromisin diperkirakan akan mencapai hingga 13 juta, Zinc hampir 15 juta, Paracetamol 30 juta, Vitamin C 77 juta, Ambroxol 26 juta, Vitamin D3 sebanyak 20 juta, Oseltamivir 32 juta, dan Favipiravir 83 juta.

Ia menambahkan, produksi obat Oseltamivir tak hanya dilakukan perusahaan BUMN, tapi juga perusahaan-perusahaan swasta lainnya. Begitu juga dengan obat Azitromisin yang juga banyak diproduksi oleh perusahaan swasta.

Meskipun pasokan obat-obatan tersebut telah disiapkan, Erick meminta agar pengawasan stok di lapangan juga harus diperketat sehingga tidak ada pihak tertentu yang melakukan penimbunan.

"Jadi kita sekarang secara produksi inline, bahan baku juga terkontrol," ucap Erick.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA