Tuesday, 18 Muharram 1444 / 16 August 2022

Tuesday, 18 Muharram 1444 / 16 August 2022

 

18 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Kenikmatan yang Sempurna Menurut Syekh Ibnu Athaillah

Sabtu 14 Aug 2021 21:50 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Syekh Ibnu Athaillah mengungkapkan bentuk nikmat yang sempurna.Ilustrasi rezeki (ilustrasi)

Syekh Ibnu Athaillah mengungkapkan bentuk nikmat yang sempurna.Ilustrasi rezeki (ilustrasi)

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Syekh Ibnu Athaillah mengungkapkan bentuk nikmat yang sempurna

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kenikmatan yang sempurna adalah rezeki yang mencukupi dan mencegah seseorang dari berbuat maksiat. 

 

Seorang ulama sufi kelahiran Mesir dan pengarang kitab Al-Hikam, Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari mengungkapkan bahwa kenikmatan yang sempurna adalah rezeki yang mencukupi. Dalam kitabnya itu, dia berkata,

Baca Juga

من تمام النعمة علييك أن يرزقك ما يكفيك ويمنعك ما يطغيك “Di antara bentuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Dia (Allah) memberi sesuatu yang mencukupimu dan menahan nafsu sesuatu yang akan mencelekakanmu”.

Dalam syarahnya di kitab al-Hikam terbitan TuRos, Syekh Abdullah Asy Syarqawi menjelaskan bahwa yang dimaksud Ibnu Athaillah dengan kesempurnaan nikmah Allah itu adalah ketika Dia memberi sesuatu yang dapat mencukupi kebutuhanmu dan menahan sesuatu  yang akan mencelakakanmu atau menjerumuskanmu ke dalam tindakan berlebihan (tughyan), terutama dalam urusan harta. Allah SWT berfirman:

كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ ﴿٦﴾ أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena Dia melihat dirinya serba cukup.” (QS Al Alaq 6-7)

Dalam hadits juga disebutkan, “Apa yang sedikit dan cukup lebih baikdaripada yang banyak, tetapi melenakan.”

Syekh Abdullah menambahkan, pemberian yang tidak mencukupi kebutuhan biasanya akan membuat seseorang sibuk dan melalaikan ketaatan kepada Allah. Karena itu, menurut dia, pemberian seperti itu tidak disebut sebagai kesempurnaan nikmat.   

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile