Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

 

7 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Lionel Messi Pergi, Barcelona Pun Merugi

Rabu 18 Aug 2021 07:34 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Endro Yuwanto

Penyerang Argentina Lionel Messi menjadi emosional saat konferensi pers untuk menjelaskan versinya tentang alasan kepergiannya dari Barcelona FC di Barcelona, Spanyol, 8 Agustus 2021.

Penyerang Argentina Lionel Messi menjadi emosional saat konferensi pers untuk menjelaskan versinya tentang alasan kepergiannya dari Barcelona FC di Barcelona, Spanyol, 8 Agustus 2021.

Foto: EPA-EFE/ANDREU DALMAU
Barcelona mengalami defisit keuangan hingga Rp 7,6 triliun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Barcelona terus mengalami tekanan finansial yang cukup besar usai kepergian sang bintang, Lionel Messi. Barca tidak mampu mempertahankan Messi lantaran masalah finansial dan struktural.

 

Akan tetapi, kepergian Messi tidak semata-mata mengurangi beban pengeluaran gaji klub. Barca justru rugi lebih dari sekadar nilai gaji yang dikeluarkan untuk peraih enam kali gelar pemain terbaik dunia (Ballon d'Or) tersebut.

Barcelona bukan hanya kehilangan pemain paling berpengaruh tersebut, tapi juga bakal kehilangan sumber-sumber pendapatan. Barca sudah tidak boleh menggunakan foto Messi di jersey baru atau apapun yang berhubungan dengan La Pulga, julukan Messi, untuk musim depan. Bahkan La Blaugrana tidak lagi bisa menjual jersey pemain Paris Saint-Germain (PSG) tersebut untuk musim 2020/2021.

Presiden Barcelona, Joan Laporta, mengumumkan klubnya mengalami defisit keuangan hingga 451 juta euro atau sekitar Rp 7,6 triliun. Laporta menyadari kalau Barcelona telah mengeluarkan uang terlalu banyak untuk urusan gaji setelah membandingkan dengan klub lain. Selain itu, klub raksasa Katalan tersebut juga memiliki utang 1,35 miliar euro, yang membuat situasi klub makin mengkhawatirkan.

''Barcelona mengalami kerugian 451 juta euro. Tagihan upah klub mewakili 103 persen dari total pendapatan klub. Ini mencapai 20-25 persen lebih banyak dari pesaing kami,'' ujar Laporta dikutip dari Marca, Selasa (17/8).

Laporta mengatakan, klub belum menemukan cara yang bisa membuat pemain menerima pemotongan gaji. Ditambah lagi, Messi, yang menerima pemotongan gaji 50 persen, gagal memperpanjang kontrak di Camp Nou. Padahal, klub tadinya ingin menjadikan Messi contoh bagi pemain senior lainnya untuk mau menerima pemotongan gaji.

Kini, Laporta pun bingung bagaimana keluar dari masalah keuangan ini. ''Kami menemukan situasi yang sulit ketika menegosiasikan ulang kontrak para pemain. Ada modus operandi yang melewati kontrol internal,'' jelas dia.

Laporta menyebut situasi 'mengerikan' ini merupakan warisan dari presiden sebelumnya, Josep Maria Bartomeu. Bahkan, hal pertama yang dilakukan oleh kabinet Laporta adalah meminjam uang sebesar 80 juta euro atau Rp 1,35 triliun. Kalau tidak, klub tidak bisa membayar gaji para penggawa Barca. ''Rezim sebelumnya penuh dengan kebohongan. Itu adalah warisan yang mengerikan. Apa yang telah terjadi sangat mengkhawatirkan,'' katanya dikutip dari BBC.

Marc Menchen, direktur dan pencipta 2Playbook, dan Ivan Cabeza, ekonom dan partner pendiri Laudem Partners, mengungkapkan betapa berharganya Messi bagi keuangan Barcelona. Menurut Menchen dan Cabeza, Messi memberikan keuntungan sebesar 130 juta euro sampai 200 juta euro. Para ekonom itu menilai, dampak Messi harus dilihat dari tiga poin, yaitu ekonomi, olahraga, dan emosional.

''Setiap tahun Messi pasti memberikan keuntungan antara 130 juta euro, minimal, dan 200 juta euro, maksimal. Oleh karena itu, jika mengambil proporsi dari gaji, bonus, dan lainnya untuk semusim, pendapatan itu jauh dari jumlah yang dia terima,'' jelas Cabeza dikutip dari Marca.

Menurut Cabeza, ada beberapa hal yang memang tidak bisa dihitung secara kuantitatif. Tapi memberikan bukti betapa pentingnya Messi. Misalnya, 36 trofi yang dimenangkan Barcelona berkat kontribusi Messi. Selain itu, sebagian besar kontrak komersial dan sponsorship memiliki klausul yang berhubungan dengan Messi.

''Dari level emosional, brand Barcelona-Messi dikenal di seluruh dunia, ada turis yang datang ke Kota Barcelona hanya untuk melihat sang pemain bintang, (hingga) pengikut di media sosial,'' kata Cabeza menegaskan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile