Fadli Setuju Ceramah Gus Baha Embrio Indonesia dari Islam

Red: Erik Purnama Putra

Kiai Bahaudin Nursalim yang populer dipanggil Gus Baha,
Kiai Bahaudin Nursalim yang populer dipanggil Gus Baha, | Foto: Tangkapan layar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon setuju dengan video ceramah Kiai Bahaudin Nursalim yang populer dipanggil Gus Baha, yang trending di Twitter pada akhir pekan lalu. Video Gus Baha tersebut sebenarnya dibuat setahun lalu, namun kembali menjadi bahan perbincangan warganet belakangan ini.

Fadli pun sepakat dengan pendapat  ika yang memerdekakan Indonesia bukan semata Sukarno. Menurut dia, ada banyak peran umat Islam yang secara gigih berjuang untuk lepas dari cengkeraman penjajah Belanda.

"Betul sekali Gus Baha, RI diperjuangkan semua pihak terutama kaum Muslimin dipimpin kiai, ulama, habaib, ajengan. Sejarah mencatat sebelum ada gagasan pendirian Indonesia, dua pahlawan terkemuka, yaitu Pangeran Diponegoro n Tuanku Imam Bonjol bersorban lengkap berjihad lawan penjajah," ucap Fadli saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (23/8).

Salah satu ceramah Gus Baha menjadi trending di Twitter, belakangan ini. Hal itu lantaran warganet membahas video asli ceramah Gus Baha yang diunggah di Youtube ternyata sudah hilang. Adalah video ceramah ulama asal Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang membahas tentang Sukarno dan PDIP yang dihapus dari Youtube.

Akun Twitter @akticis yang membagikan informasi akun channel NGAJI KYAI mendapat peringatan dari Youtube terkait video ceramah Gus Baha. Akun NGAJI KYAI selama ini, memang kerap me-reupload berbagai video ceramah Gus Baha di Youtube.

"Kami telah meninjau konten Anda dan menemukan beberapa pelanggaran serius atau berulang terhadap Pedoman Komunitas kami. Oleh karena itu, kami menghapus channel Anda dari Youtube,” demikian keterangan tersebut.

Begini salah satu beberapa kutipan ceramah Gus Baha yang viral tersebut. "Karena embrio yang bernama Indonesia itu dari 1908, sebelum ada partai nasionalis yang berani melawan Kolonialisme Belanda, adalah partai Islam. Sehingga kebangkitan Indonesia dimulai dari 1908, karena tadi, itu yang pertama mencetus melawan Belanda adalah kiai-kiai Islam,” ucap Gus Baha.

"Saat itu bikin Serikat Dagang Islam, terus lama-lama menjadi Sarikat Islam terus lama-lama menjadi Partai Islam. Dimulai dari angkatannya HOS Tjokroaminoto itu. Haji Oemar Said Tjokroaminoto, disingkat HOS Tjokroaminoto. Jadi tidak bisa Indonesia itu meninggalkan partai Islam,” ucap Gus Baha.

"Orang yang pro-Megawati itu begitu mendewa-dewakan Sukarno, seakan-akan Indonesia itu dimulai dari Bung Karno. Sampai ada HAM Sukarnoisme, bahwa Indonesia seolah-olah dimulai dari Sukarno, memang deklarator kemerdekaan Indonesia itu Sukarno, tapi umat Islam dan partai-partai Islam tidak kecil hati,” ucap Gus Baha.

"Kita tidak mungkin tak menghormati Sukarno sebagai pahlawan. Tetapi ya kebesaran Pak Karno demi bangsa Indonesia, jangan kemudian direduksi, disederhanakan hanya melewati partai. Itu namanya pengkerdilan. Itu Pak Karno bikin negara ini untuk kusuma bangsa, bukan untuk PDIP saja, bukan partai-partai Marhaenisme, bukan partai-partai berpaham Sukarnoisme saja,” kata Gus Baha.

"Tetapi kita, kiai juga hadir. HOS Tjokroaminoto membikin partai Islam untuk mengusir Belanda, yang nantinya untuk kepentingan bangsa Indonesia, tidak hanya yang Islam saja.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Terkait


PDIP Umumkan Pemenang Festival Pahlawan Desa 

Penculikan Sukarno-Hatta dan Ngeyelnya Para Pemuda

Legislator: Transformasi Jadi Tantangan Indonesia

Megawati Minta Kader Jangan Hanya Ingin Nikmati Zona Nyaman

Refleksi HUT RI, PDIP Ajak Bangun Kemandirian Kesehatan

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark