Wednesday, 9 Rabiul Awwal 1444 / 05 October 2022

Wednesday, 9 Rabiul Awwal 1444 / 05 October 2022

 

9 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Produktivitas Industri Kelapa Ditingkatkan Melalui Teknologi

Senin 30 Aug 2021 16:10 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Fuji Pratiwi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Airlangga mengatakan, produktivitas komoditas kelapa dapat ditingkatkan menggunakan sistem smart farming.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Airlangga mengatakan, produktivitas komoditas kelapa dapat ditingkatkan menggunakan sistem smart farming.

Foto: istimewa
Kontribusi kelapa besar tidak hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga lingkungan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komoditas kelapa termasuk dalam sektor pertanian yang menjadi salah satu komoditas ekspor penting pada tanaman perkebunan. Karena itu, komoditas ini perlu dikembangkan menggunakan smart farming.

 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sektor pertanian memiliki peran penting dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia. Pada 2020, sektor itu menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 13,70 persen, terbesar kedua setelah sektor manufaktur.  

Baca Juga

Sektor tersebut merupakan salah satu yang paling tangguh di masa pandemi, sebab masih tetap tumbuh positif sebesar 0,38 persen (yoy) pada kuartal II 2021. "Kelapa harus masuk dalam rantai nilai global untuk mendapatkan nilai komoditas yang optimal dalam perdagangan internasional," ujar Airlangga dalam acara 49th International Cocotech Conference and Exhibition, Senin (30/8).

Ia mengatakan, smart farming dapat meningkatkan produksi pertanian secara signifikan, baik dari segi produktivitas maupun keberlanjutan. Untuk hilirisasinya, produk kelapa seperti minyak kelapa, minyak kelapa murni, dan fitonutrien yang memiliki nilai tambah produk yang tinggi.

Selain itu, ada pula produk kelapa juga beragam seperti air kelapa, santan, nata de coco, kelapa kering, gula kelapa, bricket, karbon aktif, serat sabut kelapa, coco peat, dan lainnya. Dari segi lingkungan, aspek ramah lingkungan dari buah kelapa merupakan kapasitasnya dalam menyerap karbon sekitar 5,6 ton CO2 per hektare per tahun dan penerapan agroforestri kelapa. 

Airlangga berharap, beberapa negara anggota International Coconut Community (ICC) dapat terus mendukung pembangunan kelapa berkelanjutan di negaranya masing-masing. Mengingat kontribusi kelapa yang besar tidak hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga dari aspek sosial, dan lingkungan.

"Hal ini sangat penting karena lebih dari 95 persen kepemilikan kelapa merupakan petani kecil yang keberadaannya perlu diperhatikan," kata dia.

Airlangga menegaskan, pemerintah juga akan terus mendukung sektor kelapa dan sekretariat ICC yang ada di Indonesia.

 

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile