Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

8 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

BNPB: Pengendalian Covid-19 untuk Transisi ke Endemi

Sabtu 04 Sep 2021 03:25 WIB

Red: Ratna Puspita

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut pengendalian pandemi Covid-19 menjadi pengubah situasi untuk masa transisi menjadi fase endemi. (Foto: Petugas kesehatan mempersiapkan sejumlah alat medis di ruangan ICU Khusus COVID-19)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut pengendalian pandemi Covid-19 menjadi pengubah situasi untuk masa transisi menjadi fase endemi. (Foto: Petugas kesehatan mempersiapkan sejumlah alat medis di ruangan ICU Khusus COVID-19)

Foto: ANTARA/Fransisco Carolio
Pemerintah telah mencanangkan pergeseran fase pandemi menjadi endemi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut pengendalian pandemi Covid-19 menjadi pengubah situasi untuk masa transisi menjadi fase endemi. Dalam situasi endemi, kemunculan kasus Covid-19 sudah menjadi hal yang konstan dan biasa.

"Game changer-nya bagaimana kita bisa transisi menuju fase endemi, di mana kita tidak khawatir lagi, karena kita tidak akan bisa mengatasinya lagi," ujar Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers daring Tim Intelijen Penanggulangan Bencana yang dipantau dari Jakarta, Jumat (4/9).

Baca Juga

Abdul menjelaskan pemerintah telah mencanangkan pergeseran fase pandemi menjadi endemi sehingga BNPB perlu menerjemahkannya menjadi peta jalan jangka panjang. Pengendalian Covid-19 dilakukan dengan kepatuhan penerapan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak), pelaksanaan 3T (testing, tracing, treatment), dan cakupan vaksinasi yang tinggi.

Dia mencontohkan pengendalian Covid-19 yang dilakukan negara Israel, Inggris dan Amerika Serikat. Di negara-negara itu, cakupan vaksin Covid-19 telah mencapai angka 60 persen sehingga ketika angka kasus konfirmasi positif meninggi, tidak sampai membuat situasi menjadi buruk.

"Artinya ketika orang yang terpapar Covid-19 banyak, tapi tidak ada perburukan," ujar dia.

Abdul memaparkan hingga kini, terhitung dari 3 Juli hingga 2 September, kasus aktif turun dari 12,48 persen menjadi 4,30 persen. Kemudian persentase kasus sembuh meningkat dari 84,86 persen menjadi 92,43 persen.

Sementara angka keterpakaian tempat tidur di rumah sakit dari 75 persen menjadi 23 persen. Namun, hingga kini angka kematian akibat Covid-19 masih meningkat dari 2,66 persen menjadi 3,27 persen.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile