Sunday, 11 Rabiul Awwal 1443 / 17 October 2021

Sunday, 11 Rabiul Awwal 1443 / 17 October 2021

Perbedaan Dosis Ketiga dan Booster Vaksin Covid-19

Selasa 28 Sep 2021 13:01 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Reiny Dwinanda

Vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech. Dosis booster berbeda dengan dosis ketiga vaksinasi Covid-19.

Vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech. Dosis booster berbeda dengan dosis ketiga vaksinasi Covid-19.

Foto: EPA-EFE/DANIEL DAL ZENNARO
Di AS, dosis booster vaksin Covid-19 diberikan secara terbatas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah warganya menjalani vaksinasi lengkap untuk memunculkan imunitas terhadap Covid-19, sejumlah negara memberikan dosis ketiga dan juga dosis penguat (booster). Namun, kedua istilah tersebut ternyata memiliki makna yang berbeda.

"Dosis ketiga dan dosis booster itu berbeda," kata Kepala petugas medis perusahaan farmasi Amerika Serikat (AS) Walgreen, Dr. Kevin Ban, dilansir laman Today, Senin (27/9).

Menurut Ben, dosis ketiga vaksin Covid-19 Pfizer dan Moderna atau dosis kedua pada vaksin dosis tunggal Johnson&Johnson diberikan kepada orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah (immunocompromised). Biasanya, mereka memiliki kondisi medis tertentu atau sedang menjalani pengobatan khusus.

"Mereka membutuhkan dosis ketiga untuk mendapatkan level kekebalan yang dapat melindunginya dan ini sangat berbeda dengan dosis booster," jelas Ban.

Mereka yang menerima dosis ketiga vaksin memiliki kondisi seperti kanker, transplantasi organ atau sel punca, HIV, atau sedang dirawat dengan steroid dosis tinggi yang dapat menekan sistem kekebalan tubuh. Hal itu pun disepakati oleh seorang dokter perawatan primer di Washington DC, Dr. Kavita Patel.

"Suntikan ketiga mengacu pada pemberian vaksin Covid-19 kepada orang dengan kondisi immunocompromised setelah mereka mendapatkan dosis lengkap. Jadi, Anda memerlukan tiga suntikan untuk divaksinasi sepenuhnya," ujar Patel.

Sementara itu, suntikan booster, menurut para ahli adalah dosis tambahan yang diperlukan setelah perlindungan dari dosis awal berkurang dari waktu ke waktu. Patel mengatakan, booster merupakan dosis penguat.

"Saya pikir itu ide yang sangat bagus, tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa Anda telah mendapatkan imunisasi lengkap. Anda masih divaksinasi lengkap tanpa booster," jelas dia.

Ban mengatakan, dosis penguat dibutuhkan oleh orang yang telah mendapat kekebalan setelah mendapatkan vaksin pertama, lalu seiring berjalannya waktu mulai melihat kekebalan yang berkurang. Biasanya itu terjadi sekitar enam bulan setelah vaksin.

"Kemudian, orang-orang itu perlu meningkatkan sistem kekebalan mereka, dan itu adalah hal yang sangat berbeda," kata Ban.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA