Tuesday, 22 Jumadil Akhir 1443 / 25 January 2022

Tuesday, 22 Jumadil Akhir 1443 / 25 January 2022

Benarkah Kedelai Pengaruhi Risiko Kanker Payudara?

Kamis 07 Oct 2021 17:19 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Pekerja membuat tempe, makanan tradisional yang terbuat dari kedelai rebus dan dicampur dengan ragi untuk proses fermentasi. Konsumsi kedelai kerap dikaitkan dengan kanker payudara.

Pekerja membuat tempe, makanan tradisional yang terbuat dari kedelai rebus dan dicampur dengan ragi untuk proses fermentasi. Konsumsi kedelai kerap dikaitkan dengan kanker payudara.

Foto: EPA-EFE/HOTLI SIMANJUNTAK
Konsumsi kedelai dikhawatirkan tingkatkan risiko kanker payudara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hubungan antara konsumsi kedelai dan risiko kanker payudara sering kali menjadi pembahasan yang kontroversial. Di satu sisi, kedelai diyakini memiliki sifat yang protektif dalam mencegah kanker payudara. Namun, di sisi lain, konsumsi kedelai dikhawatirkan dapat berkontribusi pada peningkatan risiko kanker payudara.

"Sebenarnya, semua dikaitkan dengan hormon estrogen," ujar ahli onkologi dr Walta Gautama SpB(K) Onk dalam peluncuran edisi spesial Charm Extra Maxi Pink Ribbon kolaborasi PT Uni-Charm Indonesia Tbk dan Yayasan Kanker Payudara Indonesia, Rabu (6/10).

Baca Juga

Sebuah penelitian awal yang dilakukan di China menyebutkan bahwa susu kedelai bersifat protektif terhadap kanker payudara. Manfaat ini berasal dari kandungan arachidonic acid yang ternyata memiliki efek protektif dalam mencegah kanker payudara.

Dr Walta mengatakan, ada sebuah penelitian hasil kerja sama antara China, Jepang, dan Korea yang berhasil membuktikan bahwa kedelai memang memiliki sifat protektif terhadap kanker payudara di ketiga negara tersebut. Ia menyebut, itu ada kaitannya dengan kebiasaan masyarakat setempat mengonsumsi kedelai sejak usia dini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile