Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

 

21 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Pemerintah Perkuat Antisipasi Gelombang Ketiga Covid

Jumat 15 Oct 2021 15:37 WIB

Red: Bayu Hermawan

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dr. Siti Nadia Tarmizi M-Epid

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dr. Siti Nadia Tarmizi M-Epid

Foto: Istimewa
Pemerintah telah miliki persiapan untuk antisipasi kemungkinan gelombang ketiga Covid

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah telah memiliki persiapan kemungkinan terjadinya gelombang ketiga Covid-19 pascalibur panjang akhir tahun. Direktur Pencegahan dan Pengedalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi, mengatakan persiapan itu bukan hanya ruang perawatan namun juga berbagai hal yang diperlukan pasien Covid, salah satunya oksigen.

 

"Artinya kalau oksigen ini kan sudah kita tambah, bahkan kita tambah generator. Banyak hal yang kemudian dipastikan kebutuhan oksigen kalau dia bisa meningkat misalnya berkali-kali lipat," ujarnya.

Baca Juga

Siti Nadia juga melaporkan stok obat-obatan saat ini aman. "Kita tentunya berharap tidak terjadi peningkatan kasus seperti di bulan Juli. Jadi kita berusaha tetap menekan kasus tersebut, walaupun kalau ada peningkatan, pasti akan kita upayakan dan mengendalikan," katanya.

Begitu juga dengan fasilitas kesehatan seperti ruang perawatan atau isolasi terpusat. Semuanya, kata dia, dalam posisi tersedia. "Kita tetap antisipasi kok gelombang ketiga. Kalau dibandingkan Juli kita antisipasinya jauh lebih banyak," ujar Siti Nadia.

Dia juga menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia mampu menurunkan 56 persen kasus Covid-19 pada Juli 2021 dalam waktu dua minggu dengan PPKM Darurat. "Artinya, dukungan dari semua pihak itu juga menjadi penting yang kemudian kita bisa betul-betul menurunkan angka tersebut. Yang penting mewaspadai," ungkapnya.

Dia mengungkapkan umumnya sebagian besar negara tetangga yang mengalami peningkatan kasus Covid-19 karena varian Delta. "Kita lihat varian Delta ini kan terus bermutasi. Nah ini yang memang harus diwaspadai, artinya tetap varian Delta yang harus jadi kewaspadaan kita," tuturnya.

Di Indonesia juga, kata dia, 50 persen varian Covid-19 yang dilaporkan adalah varian Delta. "Makanya menjadi penting bagaimana memastikan baik varian Delta maupun varian yang mungkin masuk ya dari luar itu harus tetap kita perkuat pintu masuk kita," ujarnya.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile