Monday, 2 Jumadil Awwal 1443 / 06 December 2021

Monday, 2 Jumadil Awwal 1443 / 06 December 2021

Ilmuwan Temukan Asal Meteorit Kuno,Lebih Tua dari Tata Surya

Sabtu 16 Oct 2021 23:31 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Dwi Murdaningsih

Meteorit. Ilustrasi.

Meteorit. Ilustrasi.

Meteorit yang dinamai Murchison diyakini lebih tua dibandingkan Tata Surya.

REPUBLIKA.CO.ID, MISSOURI -- Ilmuwan menganalisis sampel meteorit Murchison yang jatuh di kota Murchison di Australia pada 1969. Kini, para ilmuwan menjelaskan asal-usul misterius butiran meteorit kuno itu menggunakan analisis baru. 

Butir-butiran ini konon lebih tua dari tata surya itu sendiri. Menurut analisis, meteorit ini terbentuk di bintang-bintang purba yang mati sebelum matahari lahir.

Dilansir dari Space, Kamis (14/10), bintang-bintang serupa masih ada di alam semesta. Analisis butir-butiran presolar ini memberikan pandangan yang menarik tentang kimia bintang-bintang.

Baca Juga

Para ilmuwan telah mencoba menganalisis butiran presolar di meteorit sebelumnya. Namun, Nan Liu, asisten peneliti profesor fisika di Universitas Washington di Missouri dan penulis utama dalam sebuah studi baru, percaya bahwa metode sebelumnya untuk mempelajari butiran ini terlalu tidak akurat.

“Murchinson adalah meteorit primitif, yang telah terbentuk pada awal tata surya dan setelah pembentukannya tidak pernah meleleh. Sebagian besar meteorit yang berasal dari sabuk asteroid mengalami tabrakan dan pemanasan, yang melelehkannya sehingga material murni dari tahap awal tata surya menghilang,” ujar Liu kepada Space.

Metode baru

Liu dan timnya merancang metode analisis baru yang dirancang untuk menghilangkan bahan apa pun yang mungkin menempel pada permukaan butiran ini. Sebagai bagian dari teknik ini, mereka pertama-tama melarutkan potongan meteorit Murchison dalam asam sampai tersisa hanya butiran silikon karbida.

Mereka kemudian menghujani butir-butiran itu dengan sinar cesium dan ion oksigen untuk menyingkirkan bahan apa pun yang mungkin berasal dari komponen meteorit yang lebih muda. Setelah semua ini, tim melakukan pengukuran spektroskopi dari komposisi isotop butir-butiran ini kemungkinan besar berasal dari bintang karbon tetapi juga bahwa mereka sekarang dapat digunakan untuk membantu para ilmuwan memajukan pemahaman mereka tentang jenis bintang ini.

“Data isotop baru yang diperoleh dalam penelitian ini menarik bagi fisikawan bintang dan astrofisikawan nuklir seperti saya. Memang, rasio isotop nitrogen ‘aneh’ dari butiran silikon karbida presolar dalam dua dekade terakhir menjadi sumber perhatian yang luar biasa. Data baru menjelaskan perbedaan antara apa yang awalnya ada dalam butiran debu bintang presolar dan apa yang dilampirkan kemudian, sehingga memecahkan teka-teki lama di masyarakat,” Maurizio Busso, rekan penulis dari Universitas Perugia, di Italia, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Data baru ini, misalnya, memberikan petunjuk tentang bagaimana bintang karbon menghasilkan aluminium di intinya, menurut Liu. Wawasan ini, bagaimana pun, harus diverifikasi oleh penelitian lebih lanjut.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile