Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

 

8 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Nilai Ekonomi Industri Kelapa Sawit Capai Rp 750 Triliun

Kamis 21 Oct 2021 07:31 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Friska Yolandha

Pekerja mengangkut dan menata tandan buah segar kelapa sawit saat panen di Desa Jalin, Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Senin (23/8). Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan produk hilir turunan minyak sawit.

Pekerja mengangkut dan menata tandan buah segar kelapa sawit saat panen di Desa Jalin, Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Senin (23/8). Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan produk hilir turunan minyak sawit.

Foto: Antara/Syifa Yulinnas
Kemenperin fokus menjalankan kebijakan hilirisasi industri berbasis minyak sawit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan produk hilir turunan minyak sawit. Hal ini didukung ketersediaan bahan baku industri yang melimpah, produksi Crude Palm Oil (CPO) dan Crude Palm Kernel Oil (CPKO) mencapai 52,14 juta ton pada 2020.

 

Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta lebih jiwa merupakan potensi pasar sangat besar bagi produk hilir minyak sawit pangan, personal wash, personal care, hingga biofuel. “Indonesia berpredikat sangat unggul pada supply and demand minyak sawit dunia,” kata Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika di Jakarta, Kamis (21/10).

Plt Dirjen Industri Agro menyebutkan, beberapa capaian kuantitatif sektor industri kelapa sawit bagi ekonomi nasional, di antaranya menyumbang devisa ekspor Rp 300 triliun lebih per tahun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 5,2 juta orang. “Adapun capaian kualitatifnya, antara lain menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi di luar Jawa, menggerakkan aktivitas produktif daerah 3T (terluar, terpencil, dan tertinggal), serta menjaga kedaulatan ekonomi dan teritorial di perbatasan negara,” jelas dia.

Putu menegaskan, Kemenperin fokus menjalankan kebijakan hilirisasi industri berbasis minyak sawit. Upaya strategis ini dilakukan demi meningkatkan nilai tambah bahan baku lokal sekaligus mendorong masuknya investasi dan pendalaman struktur manufaktur dalam negeri.

Indikator keberhasilan hilirisasi industri minyak sawit dalam negeri yakni ratio volume ekspor antara bahan baku (CPO/CPKO) dibandingkan produk olahan. Pada kurun waktu 2016 sampai 2020, ratio volume ekspor bahan baku dengan produk olahan berada di tingkat 20 persen serta 80 persen. Pada 2021 sampai Agustus 2021, ratio volume ekspor meningkat menjadi 9,27 persen dan 90,73 persen berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) yang diolah Kemenperin.

“Saat ini, lebih dari 160 ragam jenis produk hilir olahan minyak sawit telah mampu diproduksi di dalam negeri, di antaranya untuk keperluan pangan, fitofarmaka, bahan kimia (oleokimia), hingga bahan bakar terbarukan (biodiesel). Angka ragam jenis ini mengalami peningkatan yang signifikan dari ragam jenis pada tahun 2011 yang hanya mencapai 54 jenis produk saja,” ujarnya.

Kemenperin memproyeksi, nilai ekonomi sektoral industri perkelapasawitan dari hulu sampai hilir mencapai Rp 750 triliun per tahun. Sebanyak Rp 300 triliun disumbang dari devisa ekspor. 

“Angka ini belum termasuk multiplier effect dari sektor penunjang jasa industri sampai jasa terkait lainnya yang timbul karena keberadaaan industri perkelapasawitan di seluruh Indonesia,” ujar Putu. Pada masa pandemi ini, tutur dia, produk oleokimia Indonesia juga diminati konsumen global sebagai bahan sanitasi. 

Hal ini berdampak pada kinerja ekspor produk personal wash pada periode Januari sampai Mei 2021 yang tumbuh sebesar 10,47 persen dibandingkan periode sama 2020. Volume ekspor selama lima bulan tahun ini mencapai 1,64 juta ton atau senilai 1,53 miliar dolar AS.

“Pencapaian sektor industri hilir ini perlu diapresiasi dengan dua sudut pandang. Meliputi ekonomi dan kontribusi pada kemanusiaan global karena produk oleokimia sabun/personal wash digunakan oleh penduduk dunia untuk memutus persebaran virus SARS-COV-2 penyebab COVID-19,” ujar dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile