'Maknai Maulid Nabi untuk Jaga Ukhuwah Wathaniyah'

Red: Fernan Rahadi

Peringatan Maulid Nabi SAW, ilustrasi
Peringatan Maulid Nabi SAW, ilustrasi | Foto: Tahta/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Sudah sejak dahulu kala, Islam di nusantara ini menunjukkan wajah yang damai dan penuh kearifan. Konflik-konflik yang terjadi di Tanah Air justru menumbuhkan kedewasaan dalam melihat bagaimana perjalanan dakwah keislaman di Tanah Air. Bahkan para pendakwh dan kyai-kyai telah membuktikan tidak adanya pertentangan antara nasionalisme dan ajaran Islam, karena menyadari betul bahwa untuk bisa berdakwah dibutuhkan Tanah Air yang kondusif.

Ketua bidang Kerukunan Antar-Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yusnar Yusuf Rangkuti menuturkan sebagaimana kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa suri tauladan baik kepada seluruh umat di muka bumi tidak serta merta membuat beliau mudah dalam menyebarkan kebaikan, terlebih munculnya perlawanan di Mekkah yang membuatnya harus melakukan hijrah ke Madinah sebagai negeri yang aman dan damai.

“Sebagaimana Nabi Muhammad masuk ke Madinah, maka Madinah itu menjadi tanah yang madani, aman, damai, dan sebagainya sampai dengan hari ini. Inilah yang mau dicontoh Indonesia. Dengan masuknya Islam di Indonesia maka akan menumbuhkan kedamaian, kebaikan dan penuh toleransi,” tutur Yusnar di Jakarta, Rabu (20/10).

Pria yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar (PB) Al Washliyah ini melanjutkan, adanya perbedaan suku dan agama di Indonesia menambah dinamika perkembangan Islam. Sehingga masyarakat memahami dan menjadi tahu bahwasanya agama-agama lain yang ada di Indonesia juga mengajarkan cinta terhadap perdamaian dimana semua agama mampu berjalan berdampingan.

“Karena Islam menjadi mayoritas di Indonesia tidak serta merta menjadikan aspek sosiologi-antropologinya mengikuti agama yang kita anut (Islam). Tetapi sebagai mayoritas maka sudah selayaknya kita menaungi dan merangkul saudara-saudara kita sebagai simbol perdamaian antar umat beragama,” ujar Kiai Yusnar

Menurut dia, dalam tiga konsep ukhuwah di mana salah satunya yaitu ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) menjadi hal yang harus didahulukan ketimbang ukhuwah Islamiyah. Pada konsep ukhuwah wathaniyah ini seseorang atau sekelompok masyarakat merasa bersaudara dan membina hubungan baik karena merupakan bagian dari satu bangsa yaitu bangsa Indonesia.

“Harus kita tumbuhkan terus wathaniyah kita antara kita dengan bangsa yang lain, dengan agama yang lain juga. Kita tunjukkan bahwa Islam itulah yang menjadi pahlawan, Islam di Indonesia ini bisa menjadi motor penggerak apa saja,” ucap pria yang juga merupakan anggota Gugus Tugas Pemuka Lintas Agama BNPT RI ini.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, sejatinya banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjaga ukhuwah wathaniyah. Misalnya dengan memberikan bantuan-bantuan sosial secara konkrit, terlebih ketika pandemi covid-19 ini, Dimana sejatinya masyarakat yang mampu harus peka untuk menolong orang-orang di sekitarnya tanpa mempedulikan perbedaan suku dan agama.

“Jangan lagi kita pikirkan ‘ini pemerintah belum memberi’, jangan kita pikirkan itu. Kita jalan saja. Pemerintah mau mendukung ya silahkan. Kalau belum bisa ya apa boleh buat. Sebagai umat Islam, kita akan tetap jalan untuk kebaikan,” ungkap pria yang juga pernah menjadi Ketua Umum PB Al Washliyah ini.

Pria kelahiran Medan, 25 Maret 1955 silam ini juga memandang pentingnya peran para tokoh agama, tokoh masyarakat dan ormas-ormas dalam menjaga ukhuwah wathoniyah dengan terus mengajarkan kepada umat atau kepada pengikutnya bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang benar, menyayangi semua umat dan menyayangi semua manusia yang hidup di atas bumi Allah ini.

“Maka pertama kali yang harus kita lakukan semua tokoh agama harus sayang kepada rakyat Indonesia, kepada umatnya dan mengajarkan untuk menyayangi. Sayangilah ini, sayangilah orang lain, karena itu adalah puncak semuanya untuk menjadi Wathaniyah kita ini terjaga dengan baik,” ujar Wakil Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ini

Terkait peran dari pemerintah dalam menjaga Ukhuwah Wathoniyah yang ada di masyarakat, Yusnar beranggapan bahwa pemerintah harus bisa mendengar apa yang menajdi keluhan rakyatnya. Menurutnya saat ini pemerintah sudah melakukan hal itu dengan baik, karena ia sendiri melihat dengan nyata perhatian pemerintah kepada rakyatnya dengan mengundang alim ulama untuk memberikan pandangan terkait perkembangan dan dinamika yang terjadi di masyarakat.

“Belum ada sebulan ini saya diundang Wantannas (Dewan Ketahanan Nasional) untuk memberikan masukan. Kita harus memberikan masukan yang benar-benar untuk kepentingan rakyat dan untuk kepentingan masyarakat. Artinya pemerintah sudah melakukan itu untuk menjaga Ukhuwah Wathoniyah ini  yang ada di masyarakat,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK) ini mengakhiri.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id

Terkait


Rabiul Awal dan Sunnah Nabi SAW yang Ditinggalkan 

Mengapa Kita Butuh Maulid Nabi? Ini Penjelasan Habib Nabiel

Ketua DPD: Maulid Nabi Harus Jadi Momentum Perubahan Umat

BMH Berikan Bantuan Operasional Rumah Quran di Kendal

Maulid Meneladani Nabi SAW dengan Perilaku Bangun Persatuan

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark