Friday, 11 Rabiul Awwal 1444 / 07 October 2022

Friday, 11 Rabiul Awwal 1444 / 07 October 2022

 

11 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Nigeria Kesulitan Capai 40 Persen Target Vaksinasi Covid-19

Selasa 09 Nov 2021 18:20 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Sebagian warga Nigeria menganggap vaksinasi Covid-19 tidak prioritas.

Sebagian warga Nigeria menganggap vaksinasi Covid-19 tidak prioritas.

Foto: AP
Sebagian warga Nigeria menganggap vaksinasi Covid-19 tidak prioritas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nigeria tampak kesulitan untuk mencapai target 40 persen cakupan vaksinasi Covid-19 hingga akhir tahun nanti. Bagi sebagian besar warga, vaksinasi Covid-19 masih belum menjadi prioritas.

 

Saat ini, baru tercatat kurang dari 1,5 persen populasi Nigeria yang sudah mendapatkan dua dosis vaksin Covid-19. Beberapa ahli mengungkapkan bahwa vaksinasi Covid-19 masih belum menjadi prioritas utama karena warga Nigeria dihadapkan dengan beragam isu lain.

Baca Juga

Tahun lalu misalnya, jumlah warga yang tewas karena konflik jauh lebih besar dibandingkan Covid-19. Jumlah kasus kematian akibat malaria pun tercatat lebih tinggi dibandingkan kasus kematian Covid-19.

"Orang-orang tidak menganggap serius penyakit ini," ungkap Direktur Centre for Infectious Diseases Bayero University Kano Prof Isa Abubakar Sadiq, seperti dilansir The Guardian, Selasa (9/11).

Hal ini membuat minat warga untuk mendatangi pusat kesehatan dan vaksinasi menjadi rendah. Di sisi lain, jumlah vaksin Covid-19 yang tersedia di Nigeria tidak sebanding dengan target yang dicanangkan.

"Bila kita ingin mencapai target tersebut (40 persen) kita perlu lebih banyak dosis yang tersedia, dan warga-warga perlu datang untuk mendapatkan vaksin yang tersedia," ujar Prof Sadiq.

Pada September lalu, International Development Association dari World Bank telah memberikan pinjaman sebesar 400 juta dola AS atau sekitar Rp 5,7 triliun untuk mempercepat program vaksinasi Covid-19 Nigeria. World Bank mengungkapkan bahwa uang tersebut akan ditujukan untuk pengadaan dan penyaluran vaksin yang aman dan efektif di Nigeria.

Beberapa hari setelahnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan stratgi untuk membantu negara-negara miskin mencapai cakupan vaksinasi sebesar 40 persen pada akhir 2021. Akan tetapi, Direktur Regional WHO Afrika Matshidiso Moeti mengatakan target tersebut tidak mungkin tercapai di Afrika.

"Pada situasi sekarang, benua tersebut mungkin baru mencapai target 40 persen pada akhir Maret 2022," jelas Moeti.

Sejak pandemi Covid-19 terjadi, Pusat Pengendalian Penyakit Menular Nigeria mencatat ada 212.500 kasus terkonfirmasi. Mereka juga mencatat ada sekitar 2.900 kematian Covid-19 selama pandemi.

Saat ini, terdapat kurang dari 5.500 kasus Covid-19 aktif di Nigeria. Sebagian besar bangsal isolasi dan karantina yang dibuka sejak beberapa bulan awal pandemi telah ditutup.

Sebagai perbandingan, malaria rata-rata menyebabkan 216 kematian per hari di Nigeria. Selain itu, ketidakamanan situasi menyebabkan 3.326 orang terbunuh di Nigeria.

Sebelumnya, tindakan pemerintah Nigeria yang cekatan dalam menangani pandemi Covid-19 mendapatkan pujian. Mereka cukup berhasil mengendalikan pandemi dengan menggunakan protokol kesehatan yang dirancang pada 2014 untuk menanggulangi wabah Ebola.

Nigeria termasuk negara pertama di dunia yang menutup bandara dan menerapkan skrining untuk setiap pengunjung yang datang ke negara tersebut. Lockdown juga sempat diberlakukan di beberapa kota besar di Nigeria.

Pada gelombang kedua dan ketiga pandemi Covid-19, lockdown tak lagi diterapkan karena pemerintah menyadari bahwa kebijakan untuk membuat 206 juta warga tetap di rumah tak efektif untuk dijalankan. Terlebih sekitar 40 persen warga Nigeria hidup di bawah garis kemiskinan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile