Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

KLHK dan Polisi Gagalkan Perdagangan Sisik Trenggiling

Senin 15 Nov 2021 03:59 WIB

Red: Ratna Puspita

Sisik dari hewan trenggiling (Manis Javanica). Ilustrasi

Sisik dari hewan trenggiling (Manis Javanica). Ilustrasi

Foto: ANTARA/Jessica Helena Wuysang
Sisik trenggiling dari Riau hendak dibawa ke Tungkal, Jambi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Balai Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) wilayah Sumatera bersama Polda Jambi menangkap pelaku peredaran tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi, yaitu sisik trenggiling (Manis javanica). Sisik trenggiling dari Riau hendak dibawa ke Tungkal, Jambi.

“Tim berhasil menggagalkan pengiriman seberat delapan kilogram sisik trenggiling di Jalan Lintas Timur Sumatera Gemuruh-Tungkal Ulu, Kecamatan Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjabbar, Provinsi Jambi dengan mengamankan seorang pelakunya,” tulis keterangan resmi Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera yang diterima, Senin (15/11).

Baca Juga

Dari pengungkapan kasus tersebut, tim gabungan berhasil menangkap dari tangan seseorang berinisial TPT(42) sebagai pelaku yang membawa sisik trenggiling tersebut. Penyidik juga mengamankan barang bukti berupa satu kotak kardus yang dilapisi lakban warna cokelat yang berisi sisik trenggiling dengan berat lebih kurang delapan kilogram dan satu telepon seluler.

Penangkapan pelaku, TPT menyusul adanya informasi masyarakat tentang akan adanya transaksi sisik trenggiling yang dibawa dari Pekanbaru menuju Tungkal Ulu. Selanjutnya, Balai Gakkum KLHK wilayah Sumatera berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah Jambi untuk melakukan penindakan.

Pelaku TPT adalah warga Desa Sukaramai, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Kini pelaku sedang menjalani pemeriksaan oleh PPNS Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatera.

Atas perbuatannya untuk mempertanggungjawabkan sesuai pasal 21 ayat (2) huruf d dengan ketentuan pidana Pasal 40 ayat (2), Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

sumber : Antara
Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile