Tuesday, 6 Zulhijjah 1443 / 05 July 2022

Tuesday, 6 Zulhijjah 1443 / 05 July 2022

6 Zulhijjah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Obat Imunoterapi Keytruda Kini Bisa Jadi Terapi Ginjal

Sabtu 20 Nov 2021 23:45 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

FDA izinkan obat Keytruda menjadi terapi untuk kanker ginjal.

FDA izinkan obat Keytruda menjadi terapi untuk kanker ginjal.

Foto: EPA
FDA izinkan obat Keytruda menjadi terapi untuk kanker ginjal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat telah menyetujui penggunaan obat imunoterapi dari Merck, Keytruda (pembrolizumab), untuk mengobati karsinoma sel renal (RCC). Sebelumnya, obat ini sudah digunakan untuk terapi beberapa jenis kanker, seperti kanker paru dan melanoma.

Dilansir dari foxnews, Ahad (21/11), dalam pengobatan RCC, FDA menyetujui penggunaan Keytruda sebagai terapi tambahan atau adjuvant untuk pasien dengan kriteria tertentu. Kriteria tersebut adalah berisiko sedang-tinggi atau tinggi terhadap kekambuhan RCC setelah pasien menjalani nefrektomi dan reseksi lesi metastasis.

Baca Juga

Terapi adjuvant itu sendiri merupakan terapi yang digunakan untuk meningkatkan efek atau manfaat dari terapi utama suatu penyakit. Keytruda dapat digunakan sebagai terapi adjuvant untuk pasien RCC yang memang sangat berisiko mengalami kekambuhan.

Izin dari FDA diberikan setelah Keytruda menunjukkan hasil yang baik dalam uji klinis tahap 3 KEYNOTE-564. Hasil uji klinis ini menunjukkan bahwa Keytruda dapat menurunkan risiko kekambuhan dan kematian secara signifikan hingga 32 persen dibandingkan plasebo.

Peneliti utama dalam studi, Dr Toni K Choueiri, mengatakan banyak dokter yang bereksperimen dengan imunoterapi sebagai cara untuk mengurangi kekambuhan kanker ginjal seperti RCC. Akan tetapi, semua upaya tersebut menemui jalan buntu. Keberhasilan Keytruda dalam pengobatan RCC seakan membawa angin segar.

"Obat ini aman dan menurunkan risiko kekambuhan atau kematian sebesar 32 persen," ungkap Dr Choueiri yang juga merupakan profesor dari Harvard Medical School.

Uji klinis tahap 3 ini melibatkan 994 pasien RCC berisiko sedang-tinggi atau tinggi terhadap kekambuhan. Salah satu di antara pasien tersebut adalah lansia berusia 62 tahun bernama Nick Pannone.

Pannone terdiagnosis dengan RCC sekitar tiga tahun lalu, di mana enam tahun sebelumnya dia juga menderita kanker prostat. Mengingat studi ini bersifat acak, Pannone tidak tahu apakah terapi yang dia terima merupakan Keytruda atau hanya plasebo.

Meski begitu, Pannone merasa sangat antusias karena bisa terlibat di dalam uji klinis yang penting ini. Pannone mengatakan partisipasinya dalam uji klinis ini memberikannya harapan terhadap masa depan.

"Ini membuat saya mengapresiasi hidup saya dan keluarga serta teman yang menemani saya. Saya bersyukur memiliki keluarga, teman, dan karir yang sangat baik," jelas Pannone.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 

BERITA TERKAIT

 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile