Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

8 Zulhijjah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Inggris Perluas Pemberian Booster di Tengah Kasus Omicron

Senin 29 Nov 2021 12:31 WIB

Red: Nora Azizah

Inggris perluas pemberian 'booster' bagi warga berusia di bawah 40 tahun.

Inggris perluas pemberian 'booster' bagi warga berusia di bawah 40 tahun.

Foto: AP/Matt Dunham
Inggris perluas pemberian 'booster' bagi warga berusia di bawah 40 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Inggris akan mengumumkan panduan baru untuk memperluas vaksinasi dosis penguat (booster) vaksin COVID-19 kepada warganya yang berusia di bawah 40 tahun. Hal ini dilakukan Inggris di tengah peningkatan kasus varian baru Omicron. 

Perdana Menteri Boris Johnson telah membatasi perjalanan ke Afrika bagian selatan, memperketat aturan tes COVID-19, dan mewajibkan penggunaan masker di toko-toko dan angkutan sebagai respons terhadap penyebaran Omicron. Dia juga meminta Komite Bersama untuk Vaksinasi dan Imunisasi Inggris untuk segera meninjau booster untuk orang-orang berusia di bawah 40 tahun, serta mempertimbangkan untuk mengurangi jarak waktu pemberian dosis kedua dengan dosis booster.

Baca Juga

"Kami menunggu saran itu. Saya harap itu akan datang, semoga hari ini," kata Menteri Muda Kesehatan Edward Argar kepada Sky News, pada Senin (29/11).

"Saya tidak berpikir panduan itu telah disampaikan secara resmi tetapi kami mengharapkan itu dalam beberapa jam mendatang," tambahnya.

Para menteri juga ingin meningkatkan pemberian suntikan booster. Bahkan, jika vaksin terbukti kurang efektif melawan Omicron, mereka tetap harus menawarkan perlindungan yang lebih baik terhadap varian itu dan mengurangi jumlah rawat inap dan kematian. 

Badan Keamanan Kesehatan Inggris pada Ahad (28/11) menyatakan telah mengidentifikasi kasus ketiga yang dikonfirmasi sebagai Omicron, yang menurut para ilmuwan memiliki sekitar dua kali lipat jumlah mutasi pada lonjakan protein dibandingkan varian Delta yang dominan saat ini. 

"Saya kira kasus akan meningkat. Kita tidak tahu dengan kecepatan berapa atau angka berapa, jadi apa yang kita lakukan adalah mencoba memperlambatnya. Tetapi kita tidak bisa menghentikannya," kata Argar.

"Kami berusaha memberi kami waktu untuk memahami cara kerjanya dan bagaimana varian itu berinteraksi dengan vaksin," tambahnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile