Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

 

30 Safar 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Petambak Udang Tingkatkan Produksi dengan AI dari DELOS

Selasa 30 Nov 2021 18:29 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Berbekal teknologi bernama Aquahero, DELOS dapat menjadi solusi dari problem tradisional tambak udang yang terjadi sekarang ini.

Berbekal teknologi bernama Aquahero, DELOS dapat menjadi solusi dari problem tradisional tambak udang yang terjadi sekarang ini.

Foto: DELOS
DELOS mengajak para petambak udang meningkatkan produksi lewat teknologi Aquahero.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan start-up aquatech Indonesia, DELOS, berkomitmen mendukung para petambak udang untuk memajukan pertambakan udang Indonesia. Berbekal teknologi bernama Aquahero, DELOS dapat menjadi solusi dari problem tradisional tambak udang yang terjadi sekarang ini.

 

CEO DELOS, Guntur Mallarangeng, menjelaskan Aquahero sebagai pendamping petambak menjalankan usaha, mampu menjaga akurasi perkiraan dan rekomendasi tindakan yang dihasilkan. Ada empat hal yang ditawarkan dalam implementasinya ke industri tambak udang tersebut.

“Sebagai awal permulaan, DELOS akan mengambil sampling data dari tambak tersebut, lalu akan meneliti dengan seksama untuk mendapatkan rekomendasi tindakan apa yang diperlukan,” ujar Guntur dalam keterangannya, Senin (30/11).

Guntur menjelaskan, secara garis besar, DELOS lewat Aquahero mampu menjalankan sejumlah fungsi, di antaranya: sistem SOP manajemen dan pengawasan yang ideal. Pengoperasian tambak udang harus memiliki manajemen dan pengawasan yang baik agar dapat menghasilkan jumlah panen yang diinginkan. "Dengan ketepatan, pada akhirnya bisa meningkatkan  profitabilitas dan produktivitas tambak," kata Guntur.

Kedua pemantauan data siklus, di mana akan ditampilkan secara langsung untuk mempermudah pemantauan dan prakiraan kualitas air, termasuk tingkat level dan prakiraan Amonia. Ketiga sistem supply chain yang benar dari hulu sampai hilir dengan sangat terfragmentasi, masalah kesenjangan produktivitas antar tambak dapat teratasi.

Menurut Guntur banyak tambak konvensional saat ini mengalami hambatan di tengah-tengah value chain, dan membatasi output pabrik dan ekspor di hilir. "Hingga rata-rata hanya mencapai 40-60 persen kapasitas pabrik," ucap dia.

Selanjutnya adalah solusi financing. Ke depannya, DELOS berharap dapat menjadi salah satu solusi bagi petambak udang dalam hal penyaluran pembiayaan modal kerja yang ramah dan mudah.  

Guntur berpendapat Indonesia dapat menjadi negara yang potensial sebagai pemain di industri akuakultur yang berkelanjutan. Dengan garis pantai sepanjang 54.000 km, sumber daya manusia pesisir yang melimpah, serta iklim tropis yang menunjang, terutama dengan komoditi udang Indonesia yang mampu bersaing dalam skala global sebagai produk akuakultur paling berharga kedua di dunia, dalam hal produk ekspor makanan laut terbesar.  

Bahkan permintaan global untuk protein berbasis makanan laut kian meningkat, saat ini akuakultur memasok lebih dari 60 persen dari semua makanan laut yang dikonsumsi. Dengan perspektif itu, pemerintah Indonesia telah menargetkan budidaya dan produksi udang untuk tumbuh 250 persen selama tiga tahun ke depan.

Alasan ini lah mengapa DELOS ingin menggandeng para petambak udang untuk bergabung dengan cara mudah. “Kuncinya mudah, petambak harus memiliki visi dan misi yang sama dengan kami sehingga tercipta sebuah kerja sama yang baik sampai nantinya waktu panen tiba. Sebab, keberhasilan petambak itu merupakan keberhasilan DELOS pula secara tidak langsung,” ujar Guntur. 

Selain itu, petambak yang ingin bergabung harus dipastikan memiliki modal kerja yang cukup sesuai dengan perhitungan DELOS agar rekomendasi-rekomendasi yang dikeluarkan dapat dijalankan sesuai dengan ekspektasi. “Kami ingin merangkul para petani tambak dengan pendampingan waktu penuh (full time), sebagai dukungan pada segala situasi dan menjadikan DELOS ini sebagai alat bantu dalam mewujudkan pencapaiannya,” katanya.

Saat ini DELOS telah merangkul setidaknya 70 hektar tambak udang dalam kurun waktu beberapa bulan ini. Dengan berlokasi tambak menyebar di beberapa wilayah, seperti Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Timur, teknologi Aquahero telah teradaptasi dengan baik.

“Untuk pencapaian skala pendek, kami selalu menargetkan panen yang optimal,” katanya. DELOS akan mendapat pembagian hasil ketika panen itu sukses.

Dengan kehadiran DELOS sebagai start-up aquatech di Indonesia, besar harapan Guntur bahwa perkembangan di industri ini dapat meningkatkan value yang nyata, sehingga mampu menumbuhkan industri kemaritiman di Indonesia 2x lipatnya. “Di tahun depan, DELOS berharap akan semakin banyak petambak udang yang bergabung sehingga dapat mencapai harapan perluasan hingga 300 Hektar tambak,” ucap dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile